Bisnis

Industri Pariwisata Catat Devisa Rp 145,13 Triliun

258
×

Industri Pariwisata Catat Devisa Rp 145,13 Triliun

Sebarkan artikel ini
INDAH: Kawasan Gunung Bromo Jawa Timur masih menjadi magnet wisatawan mancanegara maupun domestik. (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 8,98 juta kunjungan.

Capaian itu tumbuh 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Dari jumlah tersebut, kunjungan wisatawan dari kawasan Asia lainnya tumbuh 8,69 persen, Asia Tenggara 7,32 persen, dan Oseania 7,26 persen.

Seiring membaiknya situasi di Timur Tengah, kunjungan wisatawan dari kawasan tersebut juga kembali mencatat pertumbuhan positif.

Sementara pasar Eropa, meskipun masih mengalami kontraksi, juga mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Hal ini menunjukkan bahwa strategi diversifikasi pasar yang dilakukan Kementerian Pariwisata bersama berbagai pemangku kepentingan berjalan secara efektif.

Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana, mengatakan, pertumbuhan pariwisata memberikan dampak berganda terhadap perekonomian nasional.

Pada semester I/2026, devisa pariwisata berhasil menembus USD 8,43 miliar atau setara dengan Rp 145,13 triliun.

Angka ini tumbuh 2,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar USD 8,20 miliar atau setara dengan Rp 134,68 triliun.

Capaian ini melanjutkan tren positif devisa pariwisata Indonesia. Pada triwulan II/2026 sendiri, devisa pariwisata mencapai USD 4,39 miliar atau setara dengan Rp 76,99 triliun. Relatif stabil dibandingkan triwulan II tahun sebelumnya.

“Artinya, di tengah dinamika geopolotik, ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global, pariwisata Indonesia tetap menunjukkan ketahanan,” kata Widiyanti.

Lebih jauh ia menjelaskan, setiap transaksi wisatawan, mulai dari akomodasi, kuliner, hingga belanja produk UMKM turut menggerakkan roda ekonomi lokal.

Devisa yang masuk kemudian menggerakkan rantai ekonomi hingga ke masyarakat. Karena itu, pertumbuhan devisa semakin menguatkan arah pembangunan pariwisata berkualitas.

“Bagi kami, angka ini penting. Karena pariwisata bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi seberapa besar nilai ekonomi yang mereka tinggalkan di Indonesia dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat,” ungkapnya.

READ  Pembiayaan Pindar untuk UMKM Tembus Rp 35,12 Triliun

Widiyanti juga menyampaikan perhitungan Tourism Satellite Account yang disusun BPS mencatatkan kontribusi langsung pariwisata terhadap PDB pada 2025 mencapai 4,78 persen atau sekitar Rp 1,139 triliun, meningkat dari Rp 1,057 triliun di tahun 2024.

Pertumbuhan tersebut ditopang dari mobilitas wisatawan nusantara yang tetap tinggi, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, membaiknya konektivitas, serta semakin banyaknya penyelenggaraan event nasional dan internasional.

“Angka ini mencerminkan nilai ekonomi yang tercipta dari aktivitas wisata yang menggerakan usaha, membuka peluang kerja, dan memperluas manfaat bagi masyarakat di berbagai daerah,” tutur Widiyanti. (LIQ)