BisnisHeadlinePropertiUmum

Segmen End User Masih Dominasi Pasar Properti Surabaya, Pakuwon Optimistis Penjualan Tetap Tumbuh

372
×

Segmen End User Masih Dominasi Pasar Properti Surabaya, Pakuwon Optimistis Penjualan Tetap Tumbuh

Sebarkan artikel ini

INVESTORBISNIS.COM – Meski pasar properti nasional tengah mengalami perlambatan, daya beli masyarakat Surabaya di segmen menengah atas dinilai masih cukup solid. Kondisi tersebut membuat pengembang tetap optimistis terhadap prospek pasar properti hingga akhir 2026.

Pakuwon Group
mengonfirmasi bahwa segmen end user atau pembeli rumah untuk kebutuhan hunian pribadi masih menjadi motor penggerak utama pasar properti saat ini.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Direktur Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi mengungkapkan sekitar 70 persen transaksi properti saat ini didominasi oleh kebutuhan tempat tinggal, bukan sekadar investasi spekulatif.

Hal itulah yang menjadi dasar optimisme perseroan terhadap prospek pasar properti di sisa tahun ini.

“Investor mungkin sedang menahan diri, tetapi mayoritas masyarakat membeli rumah karena kebutuhan mendesak untuk tempat tinggal. Inilah yang membuat pasar tetap bergerak dinamis,” ujar Sutandi di sela pameran properti di Surabaya, Kamis (7/5/2026).

Menurut Sutandi, saat ini menjadi momentum yang tepat bagi masyarakat untuk membeli properti. Pasalnya, di tengah ancaman kenaikan biaya konstruksi dan inflasi, pengembang masih berupaya mempertahankan harga jual, khususnya selama periode pameran properti Mei 2026.

“Ke depan harga pasti naik mengikuti kenaikan biaya bahan bangunan. Namun saat ini, kami masih menawarkan harga terbaik yang disertai berbagai kemudahan pembiayaan,” tambahnya.

Optimisme tersebut berkaca dari pencapaian penjualan pada akhir 2025 lalu. Dari target transaksi sebesar Rp200 miliar, realisasi penjualan justru melonjak hingga Rp280 miliar.

Sutandi menyebut hunian dengan harga Rp2,5 miliar hingga Rp10 miliar saat ini menjadi segmen paling agresif. Sementara pasar rumah di bawah Rp2 miliar cenderung mengalami perlambatan.

Sinergi antara pengembang dan perbankan juga dinilai memperkuat pasar properti di Surabaya. Vice President Consumer Loan BCA
Surabaya, Meliani Tjondro mengatakan pihaknya masih mempertahankan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di level 2,9 persen meski terdapat tren kenaikan suku bunga acuan.

READ  Sebanyak 4.046 Perlintasan Sebidang Kereta Api di Jalur Aktif Segera Ditertibkan

“Kami belum menaikkan suku bunga sebagai bentuk dukungan bagi masyarakat yang ingin memiliki hunian. Selain bunga kompetitif, kami juga menawarkan tenor hingga 20 tahun,” jelas Meliani.

Di tengah isu kenaikan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) secara nasional, Meliani menyebut kondisi KPR di Surabaya masih tergolong sangat sehat.

Menurutnya, angka NPL KPR di wilayah Surabaya berada di kisaran 1,5 persen atau jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional.

“Secara nasional memang ada kenaikan, tetapi khusus di Surabaya angka NPL justru cenderung menurun dan sangat terjaga. Hal ini karena kami sangat selektif dalam memilih mitra pengembang, terutama dari sisi legalitas dan kualitas proyek,” pungkasnya. (TMD)