INVESTORBISNIS.COM – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) mencatatkan kinerja positif pada kuartal I/2026.
Anak usaha Garuda Indonesia Group yang bergerak di bidang maintenance, repair & overhaul (MRO) tersebut berhasil membukukan laba berjalan sebesar USD 6,76 juta.
Jumlah itu melonjak 78,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD 3,79 juta.
Peningkatan laba tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan perseroan yang mencapai USD 114,94 juta hingga akhir Maret 2026.
Angka itu tumbuh 20,53 persen dibandingkan pendapatan kuartal I/2025 sebesar USD 95,36 juta.
Capaian tersebut mencerminkan semakin kuatnya fundamental transformasi bisnis MRO Garuda Indonesia Group, di tengah meningkatnya kebutuhan layanan maintenance industri penerbangan, baik di tingkat regional maupun global.
Direktur Utama GMF, Andi Fahrurrozi mengatakan, pertumbuhan tersebut menjadi indikator positif atas efektivitas strategi transformasi bisnis yang dijalankan secara konsisten oleh perseroan.
“Pertumbuhan laba dan pendapatan pada awal tahun ini mencerminkan momentum penguatan bisnis GMF yang semakin solid. Selain didukung peningkatan aktivitas maintenance, capaian ini juga menunjukkan semakin kompetitifnya kapabilitas GMF dalam menjawab kebutuhan industri aviasi domestik maupun internasional,” ujar Andi, Jumat (8/5/2026).
Sepanjang kuartal I/2026, GMF juga mencatat sejumlah pencapaian strategis yang memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain MRO regional.
Salah satunya adalah keberhasilan penyelesaian full overhaul perdana secara mandiri untuk mesin CFM56-5B milik Citilink yang didukung melalui pendanaan Danantara.
Keberhasilan tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan serviceability armada Garuda Indonesia Group sekaligus memperkuat kapabilitas engineering nasional.
“Di pasar internasional, GMF memperluas basis pelanggan melalui penambahan kastemer baru dari Korea Selatan, yakni Airzeta dan T-Way,” lanjutnya.
Perseroan juga berhasil menyelesaikan sejumlah proyek strategis global, di antaranya overhaul pesawat A330 milik Korean Air serta landing gear change untuk Fiji Airways.
Tak hanya fokus pada sektor penerbangan, GMF turut memperkuat diversifikasi bisnis engineering melalui proyek non-aviasi.
Salah satu proyek yang dikerjakan yakni normalisasi PLTG MPP Balai Pungut TM2500 #3 untuk PLN Batam.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperluas sumber pertumbuhan usaha berbasis engineering services.
Komitmen GMF dalam menjaga standar layanan global juga diperkuat lewat raihan sertifikasi baru dari otoritas penerbangan Selandia Baru dan Aruba.
“Sertifikasi tersebut memperluas cakupan layanan perseroan di pasar internasional,” ujar Andi.
Andi mengungkapkan, seiring pertumbuhan profitabilitas, struktur permodalan GMF juga menunjukkan penguatan.
Hingga akhir Maret 2026, total ekuitas perseroan meningkat menjadi USD 140,58 juta dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar USD 114,57 juta.
Peningkatan itu didorong oleh akumulasi laba berjalan serta realisasi aksi korporasi melalui penerbitan saham baru yang memperkuat fundamental keuangan perusahaan.
“Kami optimistis momentum pertumbuhan bisnis ini akan terus berlanjut seiring meningkatnya aktivitas penerbangan global dan kebutuhan layanan maintenance yang semakin tinggi,” ujarnya.
“Ke depan, GMF akan terus fokus memperkuat operational excellence, memperluas pasar internasional, serta menghadirkan kapabilitas engineering yang semakin kompetitif guna mendukung pertumbuhan usaha yang sehat dan berkelanjutan,” tutup Andi. (RLI)












