INVESTORBISNIS.COM – Program One Pesantren One Product (OPOP) digagas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur untuk memperkuat kemandirian ekonomi pesantren melalui pengembangan produk unggulan.
Program ini mendorong setiap pesantren memiliki minimal satu produk atau usaha yang bisa berkembang secara profesional dan berdaya saing.
Program ini memiliki tiga pilar utama, yaitu pesantrenpreneur yaitu penguatan usaha lembaga pesantren.
Kedua yaitu santripreneur yaitu pembinaan kewirausahaan santri, serta sosiopreneur yang merupakan pemberdayaan alumni dan masyarakat sekitar pesantren
Program OPOP ini mulai berjalan sejak 2019 dan menjadi salah satu program unggulan Pemprov Jawa Timur di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa
Pemprov Jawa Timur pun terus mendorong penguatan ekonomi berbasis pesantren melalui Rapat Koordinasi (Rakor) OPOP Jawa Timur Tahun 2026.
Plt. Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Akhmad Jazuli menegaskan bahwa Rakor ini sangat penting dan strategis, karena Jawa Timur dengan jumlah pesantren terbesar dan basis ekonomi kerakyatan yang kuat.
“Jawa Timur juga memiliki peran strategis dalam mempercepat pengembangan ekonomi syariah di tingkat nasional dan khususnya di kawasan Jawa Timur,” ungkap Jazuli, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya sangat tepat jika pesantren harus dibekali dengan ilmu kewirausahaan dan keterampilan dan OPOP ini sangat penting.
“Maka rakor ini sangat penting yang diharapkan bisa merumuskan sesuatu yang betul-betul dilaksanakan dengan mudah,” lanjutnya.
Kata Jazuli, Gubernur Khofifah memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas dukungan serta inovasi yang terus dikembangkan oleh anggota tim penguatan dan pengembangan OPOP Jawa Timur, di antaranya oleh Dinas Koperasi, Usaha Kecil Dan Menengah (Dinkop UKM) dengan fasilitasi advokasi kelembagaan, sertifikasi, perluasan pasar dan pembiayaan hingga yang paling baru ada program Pesawat (Pelatihan Santri Wirausaha Terpadu).
Sedangkan ITS Bersama OPOP Training Center menggelar program pelatihan dan pendampingan koperasi pesantren di delapan) wilayah di Jawa Timur.
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dengan OPOP Training Center.
Kemudian Badan Pendapatan Daerah Provinsi (Bappeda) Jawa Timur dengan Samsat OPOP.
Serta Bank Indonesia (BI) dengan dukungan digitalisasi pembayaran dan Bank Jatim Syariah dengan kolaborasi layanan perbankan syariah.
“Jawa Timur sebagai gerbang baru nusantara menjadi penbhubung berbagai daerah tertutama untuk Indonesia bagian timur, sehingga partisipasi pesantren adalah salah satunya adalah untuk membentuk SDM unggul untuk melanjutkan ekonomi di Jawa Timur. Alumni pesantren betul-betul menjadi penggerak ekonomi,“ pungkasnya.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa mengatakan bahwa rakor ini digelar untuk meningkatkan sinergi dan kolaborasi program pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pesantren di Jawa Timur.
“Serta meningkatkan jalinan tali silaturrahmi antara pemerintah, stakeholder dan pesantren anggota OPOP Jawa Timur Tahun dan untuk meningkatkan pemahaman strategi pengembangan ekonomi masyarakat berbasis pesantren melalui banchmarking koperasi sukses,” ujar Endy.
Rakor ini diikuti oleh 170 orang dari 100 pesantren peserta program OPOP Tahun 2026, 10 Peserta OPOP terbaik tahun 2019-2025, anggota Tim Eko-Tren OPOP Jawa Timur serta 100 pesantren peserta program OPOP Tahun 2026 yang hadir secara daring. (AVS)














