INVESTORBISNIS.COM – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menyampaikan bahwa pada semester I/2026, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 62,71 triliun dan laba bersih Rp 6,91 triliun.
Capaian tersebut mencerminkan kemampuan emiten ANTM dalam menjaga kinerja bisnis di tengah dinamika industri pertambangan dan pasar komoditas.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira mengatakan, capaian positif perseroan didukung oleh optimalisasi operasional, pengelolaan portofolio komoditas, serta disiplin dalam menjaga efisiensi dan kesehatan keuangan.
“Antam terus berfokus menjaga fundamental keuangan melalui pengelolaan biaya yang disiplin, optimalisasi kinerja operasional, serta penguatan bisnis pada komoditas utama. Strategi tersebut kami jalankan sejalan dengan pengembangan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan mendukung pertumbuhan Perseroan secara berkelanjutan,” ujar Arini dikutip Minggu (13/9/2026).
Pada semester I/2026, Antam mencatat volume penjualan emas sekitar 18,1 ton dengan pendapatan dari bisnis emas sekitar Rp 50,39 triliun.
Capaian tersebut memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perseroan sepanjang semester pertama tahun 2026.
Dalam menjalankan bisnis emas, Antam terus berfokus pada penguatan rantai nilai dan menjaga keberlanjutan bisnis dengan mempertimbangkan dinamika pasar.
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan pasokan bahan baku, peningkatan kapabilitas pengolahan dan manufaktur, serta pengembangan akses pasar.
Antam juga mempersiapkan pengembangan fasilitas manufaktur Logam Mulia di Gresik dengan proyeksi kapasitas sekitar 30 ton per tahun, yang saat ini berada pada tahap prakonstruksi.
“Kinerja bisnis emas memberikan kontribusi positif bagi Antam pada semester I/2026. Ke depan, kami akan terus mencermati dinamika pasar dan menjaga fleksibilitas strategi bisnis, termasuk melalui penguatan rantai pasok, kapabilitas pengolahan dan manufaktur, serta pengembangan pasar. Pada saat yang sama, Antam terus mengoptimalkan portofolio nikel dan bauksit untuk memperkuat diversifikasi bisnis Perseroan,” tambah Arini.
Pada komoditas nikel, sepanjang Semester I 2026 ANTAM membukukan produksi bijih nikel sekitar 7,78 juta wet metric ton (wmt) dan volume penjualan sekitar 6,77 juta wmt. Seluruh penjualan bijih nikel ANTAM pada periode tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
ANTAM terus mengembangkan hilirisasi nikel sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri. Pengembangan rantai nilai tersebut mencakup pertambangan, RKEF dan HPAL, hingga material baterai dan sel baterai sebagai bagian dari pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.
“Pengembangan hilirisasi merupakan bagian penting dari strategi pertumbuhan jangka panjang ANTAM. Kami ingin memastikan sumber daya yang dimiliki Perseroan dapat memberikan nilai tambah yang semakin optimal melalui pengembangan rantai bisnis yang lebih terintegrasi, dengan tetap memperhatikan aspek keekonomian proyek dan pengelolaan risiko,” jelas Arini. (HYA)













