Keuangan

Perdagangan Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat ke Rp 17.642 per USD

378
×

Perdagangan Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat ke Rp 17.642 per USD

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI. (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Rupiah membuka perdagangan Jumat (4/9/2026) dengan penguatan 0,1 persen ke Rp 17.642 per USD.

Tak lama berselang, rupiah kembali melanjutkan penguatannya ke level Rp 17.628 per USD.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Dikutip dari Bloomberg, penguatan rupiah hari ini tertopang oleh meredanya ekspektasi pelaku pasar bahwa The Fed akan mengambil sikap hawkish, setelah proyeksi data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) diperkirakan lesu.

“Pelaku pasar melihat lemahnya pasar tenaga kerja dapat menjadi alasan The Fed untuk menahan suku bunga acuan, alih-alih kembali mengetatkan kebijakan moneternya,” tulis Bloomberg, Jumat (4/9/2026).

Bloomberg Economics memperkirakan nonfarm payrolls Agustus hanya bertambah 12.000.

Meskipun membaik dari kontraksi 23.000 pada Juli, tetapi masih jauh di bawah laju penciptaan lapangan kerja pada musim semi yang sempat mencapai lebih dari 100.000.

Pada saat yang sama, tingkat pengangguran diproyeksikan meningkat menjadi 4,26 persen dari 4,10 persen.

Kombinasi lemahnya penciptaan lapangan kerja dan meningkatnya pengangguran akan menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum.

Jika realisasi data tersebut sesuai atau bahkan lebih buruk dari proyeksi, maka ekspektasi terhadap kebijakan higher for longer The Fed berpotensi semakin mereda.

Implikasinya, imbal hasil US Treasury dan USD berpeluang kembali tertekan, dan bisa memberikan ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk menguat.

Hal itu sudah terlihat pada pergerakan mayoritas mata uang Asia yang berada di zona hijau.

Baht Thailand memimpin penguatan 0,3 persen, disusul peso Filipina, dolar Taiwan, rupiah, dolar Singapura, yen Jepang, yuan China, serta yuan offshore.

Hanya ringgit Malaysia, won Korea Selatan dan dolar Hong Kong yang melemah, itu pun sangat terbatas.

READ  Harga Emas Diprediksi Sentuh Level Tertinggi Desember Ini, Geopolitik Jadi Pendorong Utama

Namun, penguatan mata uang Asia belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang risiko geopolitik dan harga energi. Harga minyak bergerak tinggi hampir USD 96 per barel, tertinggi sejak Juli.

Kenaikan harga minyak masih jadi perhatian serius bagi Indonesia, lantaran dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor energi.

Selain itu, defisit transaksi berjalan, dan fiskal kembali membayangi pelaku pasar, terlebih setelah data neraca perdagangan sepanjang Januari-Agustus 2026 mencatat adanya defisit minyak dan gas (migas) sebesar USD 18,75 miliar.

Angka defisit itu menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak tak cuma jadi persoalan inflasi, tetapi juga meningkatkan kebutuhan USD dan menekan keseimbangan eksternal Indonesia.

Di tengah sentimen ini, rupiah berpotensi bergerak di rentang Rp 17.600 – Rp 17.700 per USD di perdagangan pasar spot hari ini.

Jika data ketenagakerjaan AS benar-benar di bawah ekspektasi ekonom, maka ruang penguatan bagi rupiah berpotensi terbuka ke area Rp 17.600 per USD. (MSJ)