Bisnis

Perusahaan Pengelola Minyak Nabati di Surabaya Beli 30,2 Ton Kopra Masyarakat Adat Sarmi Papua

344
×

Perusahaan Pengelola Minyak Nabati di Surabaya Beli 30,2 Ton Kopra Masyarakat Adat Sarmi Papua

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI. (ECONUSA)

INVESTORBISNIS.COM – Wakil Gubernur Papua Aryoko AF Rumaropen melepas pengiriman 30,2 ton kopra hasil produksi petani di Kabupaten Sarmi, ke Surabaya, Jawa Timur.

Pengiriman kopra ke Kota Pahlawan ini sebagai upaya memperluas akses pasar dan meningkatkan nilai ekonomi komoditas perkebunan masyarakat.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Pelepasan kopra berlangsung di Pelabuhan Jayapura, Selasa (11/8/2026), dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Sarmi, DPRP, instansi pelabuhan dan karantina, serta mitra pembangunan, termasuk EcoNusa.

Aryoko mengatakan pengiriman tersebut menunjukkan potensi komoditas lokal Papua dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.

“Nilai ini mungkin baru sebuah awal, tetapi memiliki makna yang sangat besar. Ini adalah bukti bahwa apabila potensi lokal dikelola secara serius, maka akan tercipta lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya dikutip dari Antara, Sabtu (15/8/2026).

Menurut dia, pengembangan komoditas unggulan Papua membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, petani, dunia usaha, mitra pembangunan, dan berbagai pemangku kepentingan.

Sebanyak 30,2 ton kopra tersebut dihimpun EcoNusa selama dua bulan melalui Koperasi Yora Mekhande Jaya dan kelompok petani lainnya dengan melibatkan 410 petani dari 33 kampung di Kabupaten Sarmi.

Kopra tersebut dibeli dengan harga berkisar Rp 8.000 hingga Rp 13.000 per kilogram, kemudian dikonsolidasikan di Jayapura, Papua, sebelum dikirim ke perusahaan pengolahan minyak nabati di Surabaya, Jatim. Nilai transaksi pengiriman mencapai sekitar Rp 450 juta.

Manajer EcoNusa Regional Papua Maryo Saputra Sanuddin mengatakan, kopra tersebut merupakan hasil produksi masyarakat adat Sarmi yang tersebar di tiga suku besar, yakni Sobey, Manirem, dan Rumbuay.

READ  Bank Jatim cetak laba bersih Rp1,28 triliun di 2024

“Ini salah satu bentuk kolaborasi bersama antara pemerintah dan mitra pembangunan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat masyarakat adat. Ini membuktikan masyarakat adat bisa dan siap untuk bersaing,” ujarnya.

Ia mengatakan perputaran ekonomi dari perdagangan kopra masyarakat Sarmi selama semester pertama 2026 mencapai sekitar Rp 950 juta.

Sementara sejak tahun sebelumnya, nilainya telah mencapai sekitar Rp 1,5 miliar.

Sebelum dikirim ke Surabaya, seluruh muatan kopra menjalani pemeriksaan Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua untuk memastikan kondisi dan kesesuaian komoditas serta memastikan kopra bebas dari kontaminasi benda lain.

Pengiriman tersebut menjadi bagian dari perdagangan antarpulau untuk memperpendek rantai pasok sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani Sarmi.

Pengiriman kopra Sarmi juga menjadi contoh penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat adat, pelaku usaha, dan mitra pembangunan.

Upaya memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal akan menjadi salah satu isu yang dibahas dalam PAPEDA Summit 2026 yang berlangsung di Kota Sorong pada 2-4 September 2026.

Forum pembangunan berkelanjutan tersebut akan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas ekonomi regeneratif, hak masyarakat adat, serta penguatan rantai nilai berkelanjutan di Tanah Papua. (PTO)