EkonomiHeadline

AI Makin Penting Bagi Aktivitas Ekonomi, Berpotensi Tingkatkan Kontribusi terhadap PDB hingga 3,67 Persen

391
×

AI Makin Penting Bagi Aktivitas Ekonomi, Berpotensi Tingkatkan Kontribusi terhadap PDB hingga 3,67 Persen

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI: Meningkatnya kebutuhan efisiensi dan produktivitas di berbagai sektor, mendorong pemanfaatan teknologi AI secara lebih luas dalam aktivitas ekonomi. (SHUTTERSTOCK)

INVESTORBISNIS.COM – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyatakan bahwa perluasan adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi meningkatkan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga 3,67 persen.

Menurutnya, potensi tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan efisiensi dan produktivitas di berbagai sektor, yang mendorong pemanfaatan teknologi AI secara lebih luas dalam aktivitas ekonomi.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

“Daya saing hari ini tidak lagi ditentukan oleh sumber daya, tetapi oleh kemampuan beradaptasi dengan teknologi, terutama AI,” ujar Meutya.

Menurutnya, Indonesia berada pada posisi strategis untuk memaksimalkan peluang tersebut.

Ekosistem digital yang kuat dan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat menjadi modal penting dalam mendorong adopsi AI secara luas.

“Nilai kini bergeser, bukan lagi soal sumber daya, tetapi kemampuan kita mengelola data menjadi solusi,” jelasnya.

Data Bank Dunia menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-41 dari 198 negara dan masuk dalam Kategori A untuk transformasi digital publik yang kuat, memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.

“Indonesia terus memperkuat posisi sebagai kekuatan utama ekonomi digital di Asia Tenggara,” ungkap Meutya.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya percepatan adopsi AI di sektor-sektor strategis.

Saat ini, sektor keuangan dan ritel dinilai telah lebih maju dibandingkan sektor lainnya.

“Kesehatan, pertanian, dan manufaktur harus dipercepat karena di sanalah dampak terbesar bisa kita ciptakan,” tegasnya.

Seiring dengan perkembangan AI yang sangat cepat, Meutya menegaskan pentingnya tata kelola yang kuat dan adaptif.

“Regulasi AI bukan lagi pilihan, ini kebutuhan yang mendesak dan tidak terhindarkan,” ujarnya.

Pemerintah pun telah merampungkan peraturan presiden tentang peta jalan dan etika AI nasional yang kini menunggu pengesahan sebagai fondasi kebijakan.

READ  Gubernur Khofifah dan DPRD Jatim Ikuti Paripurna Pidato Kenegaraan Presiden

“Peta jalan ini memberi arah yang jelas sekaligus memastikan perlindungan publik dari berbagai risiko AI,” tandas Meutya.

Ke depan, pemerintah akan memastikan adopsi AI berjalan secara inklusif, menjangkau berbagai sektor dan pelaku ekonomi, termasuk UMKM, agar manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara merata di seluruh Indonesia. (KYR)