INVESTORBISNIS.COM – Ketidakpastian global yang meningkat akibat tensi geopolitik dan gangguan rantai pasok, terus menjadi tantangan bagi perekonomian dunia.
Meski demikian, Indonesia tetap menunjukkan ketahanan ekonomi yang solid, yang ditopang oleh kuatnya konsumsi domestik serta peran strategis kelas menengah sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi nasional.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso menegaskan, kontribusi kelas menengah sangat signifikan terhadap struktur ekonomi Indonesia.
“Kalau dilihat dari share-nya ke ekonomi kita, betapa pentingnya peran kelas menengah di Indonesia. Tidak hanya dari sisi belanja, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54–55 persen terhadap PDB nasional,” ujar Susiwijono dikutip Minggu (19/4/2026).
Susiwijono menjelaskan, dinamika global, termasuk konflik geopolitik yang memengaruhi sektor energi dan logistik, berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dunia.
Meski demikian, struktur ekonomi Indonesia dinilai relatif lebih resilien karena tidak terlalu bergantung pada perdagangan luar negeri dibandingkan negara lain.
Berbagai indikator makro ekonomi nasional juga menunjukkan kinerja yang solid.
Pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran 5 persen, inflasi terkendali, serta didukung oleh kinerja neraca perdagangan, cadangan devisa, dan indikator keyakinan konsumen yang tetap positif.
Pemerintah pun optimistis target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada tahun 2026 akan dapat tercapai.
Susiwijono menjelaskan, di tengah ketahanan tersebut, kelas menengah tetap menjadi perhatian utama.
Kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah saat ini mencapai sekitar 66,35 persen dari total penduduk atau sekitar 185,35 juta orang.
“Kelas ini sekaligus menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga dan daya beli nasional,” ungkapnya.
Namun demikian, kata Susiwijono, pemerintah juga mencermati adanya pergeseran proporsi kelas menengah ke kelompok menuju kelas menengah.
Pergeseran ini mengindikasikan adanya tekanan terhadap daya beli, terutama di wilayah perkotaan yang menjadi domisili mayoritas kelas menengah.
“Kondisi ini menjadi perhatian penting dalam perumusan kebijakan ke depan,” ingatnya.
Selain itu, kelas menengah juga mengalami perubahan karakteristik, antara lain pergeseran lapangan pekerjaan yang semakin didominasi sektor jasa, serta kecenderungan menurunnya proporsi pekerja formal.
Pola konsumsi kelompok ini pun lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan non-makanan seperti perumahan, transportasi, dan gaya hidup.
Lebih lanjut Susiwojono juga menyampaikan terkait fenomena Chilean Paradox yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu menjamin pemerataan kesejahteraan.
Hal ini menjadi pengingat penting agar kebijakan ekonomi tetap berpihak pada peningkatan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.
Menanggapi contoh fenomena tersebut, Susiwijono mengungkapkan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat berbagai program yang menyasar seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah.
Selain bantuan sosial bagi kelompok rentan, berbagai stimulus seperti insentif perpajakan, dukungan sektor perumahan melalui FLPP, serta insentif otomotif dan subsidi energi turut diarahkan untuk menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi kelompok ini.
“Kelas menengah kita yang menjadi tulang punggung penentu ekonomi Indonesia betul-betul kita dorong, kita berdayakan, dan berkontribusi positif untuk perekonomian nasional Indonesia,” pungkas Susiwijono. (FZM)














