INVESTORBISNIS.COM – Menjelang Hari Raya Idulfitri, aktivitas belanja dan pertukaran informasi di masyarakat meningkat secara signifikan. Kondisi ini juga kerap dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber dengan menghadirkan berbagai modus penipuan yang semakin beragam.
Merespons meningkatnya risiko tersebut, Blibli mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan dengan menerapkan prinsip JEDA, yakni berhenti sejenak sebelum bereaksi dan mengambil keputusan, baik saat beraktivitas secara daring maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga November 2025 terdapat 64.933 laporan penipuan transaksi belanja online dengan total kerugian masyarakat mencapai Rp1,14 triliun. Angka tersebut menjadikan penipuan belanja online sebagai modus yang paling banyak dilaporkan, dengan berbagai teknik seperti social engineering, baiting dan fear of missing out (FOMO), hingga phishing.
Head of Public Relations Blibli, Nazrya Octora mengatakan situasi yang serba cepat menjelang Lebaran sering membuat masyarakat lengah sehingga mudah terjebak dalam modus penipuan.
“Situasi dan informasi yang serba cepat utamanya jelang Lebaran sering kali membuat kita lengah. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mulai mempraktikkan JEDA sebelum bereaksi. Dengan berhenti sejenak, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk memvalidasi setiap informasi yang diterima, sehingga interaksi tetap aman dari risiko penipuan atau informasi hoaks,” ujarnya.
Dengan mempraktikkan JEDA, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu melindungi aset digital, tetapi juga menjaga ketenangan pikiran di tengah derasnya arus informasi menjelang Lebaran.
Berbagai Modus Penipuan yang Perlu Diwaspadai
Secara umum, terdapat beberapa pola penipuan yang kerap terjadi dan menyasar psikologi korban, di antaranya:
1. Manipulasi Psikologis (Social Engineering)
Pada modus ini, pelaku memanfaatkan kepercayaan atau kepanikan korban dengan menyamar sebagai pihak tepercaya, seperti kurir paket Lebaran, petugas bank, atau layanan pelanggan resmi. Korban biasanya diminta memberikan data pribadi seperti kode OTP atau password dengan alasan verifikasi keamanan atau pembaruan sistem.
Padahal, informasi tersebut dapat digunakan pelaku untuk mengambil alih akun korban. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak pernah membagikan data rahasia seperti OTP atau kata sandi kepada siapa pun.
2. Umpan Keuntungan Instan (Baiting dan FOMO)
Pelaku juga sering memancing korban dengan tawaran keuntungan besar dalam waktu singkat. Misalnya promo diskon besar seperti “Diskon 90% hanya 5 menit” atau “Voucher terbatas untuk 50 orang pertama”.
Selain itu, terdapat pula tawaran pekerjaan online dengan janji komisi besar menjelang Lebaran, namun berujung pada permintaan transfer dana atau deposit. Penawaran yang terlalu mendesak atau terdengar tidak masuk akal sering menjadi indikasi awal penipuan.
3. Pencurian Identitas Digital (Phishing)
Modus ini dilakukan dengan mengirim tautan menuju halaman login palsu yang menyerupai platform resmi. Perbedaannya sering sangat tipis, misalnya pada alamat domain yang hampir sama dengan situs asli.
Dalam beberapa kasus, pelaku juga menggunakan taktik company impersonation dengan mengatasnamakan pimpinan atau eksekutif perusahaan. Tujuannya untuk mencuri data akun seperti username, password, hingga informasi kartu kredit korban.
Untuk menghindari risiko tersebut, masyarakat disarankan selalu mengakses transaksi melalui kanal resmi dan memeriksa alamat situs sebelum memasukkan data akun.
Empat Langkah Sederhana Prinsip JEDA
Menurut Blibli, kewaspadaan digital tidak hanya bergantung pada kemampuan mengenali modus penipuan, tetapi juga kebiasaan sederhana untuk berhenti sejenak sebelum bertindak.
Prinsip JEDA dapat diterapkan melalui empat langkah sederhana, yaitu:
1. J – Jangan reaktif terhadap informasi yang diterima.
2. E – Evaluasi informasi secara kritis.
3. D – Double-check atau periksa kembali sumber informasi.
4. A – Ambil keputusan dengan tenang.
Melalui kebiasaan JEDA ini, masyarakat diharapkan dapat memberi ruang bagi logika untuk bekerja sebelum mengambil keputusan, baik dalam aktivitas digital maupun kehidupan sehari-hari.
Dengan berhenti sejenak untuk memeriksa informasi secara lebih jernih, masyarakat dapat menjalani aktivitas menjelang Lebaran dengan lebih aman, tenang, dan tetap terkendali. (TBU)














