INVESTORBISNIS.COM – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus mengoptimalkan upaya pemulihan aset (asset recovery) untuk memperbaiki kualitas kredit dan menekan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL).
Memasuki triwulan IV/2026, perseroan memperkuat strategi penjualan aset melalui mekanisme lelang, dengan menjadikan wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Nusra) sebagai salah satu penopang utama.
SEVP Asset Management BTN, Benjamin Sihombing mengungkapkan, tren penjualan aset BTN sepanjang 2026 menunjukkan perkembangan positif dan masih sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
“Tren penjualan aset BTN terus menunjukkan perkembangan positif sepanjang 2026 dan masih sesuai dengan target. Kami menargetkan lelang mencapai 10.000 agunan sepanjang tahun ini. Saat ini, sebanyak 6.500 agunan telah terdaftar untuk dilelang. Pada triwulan IV ini, kami akan memenuhi target awal sebanyak 10.000 agunan. Hal ini berdampak positif terhadap perbaikan kualitas kredit BTN,” kata Benjamin ditemui di sela acara Workshop Lelang Akbar Peluang Investasi Properti 2026 yang dihelat BTN di Sheraton Hotel Surabaya, Kamis (22/10/2026).
Menurut Benjamin, pencapaian tersebut didorong oleh sejumlah faktor, antara lain peningkatan efektivitas proses bisnis internal, perluasan jaringan investor melalui kerja sama dengan pihak eksternal, penguatan pemasaran melalui kanal digital, serta dukungan para pemangku kepentingan, khususnya Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) sebagai mitra strategis BTN.
Berkat berbagai inisiatif tersebut, jumlah aset BTN yang berhasil terjual melalui lelang sejak Agustus 2026 telah melampaui total pencapaian sepanjang 2025.
BTN pun optimistis tingkat keberhasilan lelang (success rate) secara nasional dapat mencapai 35 persen pada akhir tahun ini.
Dalam mengoptimalkan portofolio properti, BTN memprioritaskan penjualan melalui mekanisme lelang.
Benjamin menjelaskan bahwa skema ini dipilih karena menawarkan proses yang transparan, mudah, dan akuntabel bagi masyarakat maupun investor.
Selain memberikan kepastian hukum, lelang juga membuka peluang bagi calon pembeli untuk memperoleh aset dengan harga kompetitif melalui mekanisme penawaran yang transparan.
Keunggulan tersebut dinilai penting untuk membangun rasa aman dan kepercayaan calon pembeli dalam bertransaksi properti.
Di sisi lain, optimalisasi lelang menjadi instrumen penting bagi BTN untuk mempercepat pemulihan aset sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai konsekuensi bagi debitur yang tidak memenuhi kewajiban pembayaran kredit secara tertib dan lancar.
Dari sisi regional, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Nusra) mencatatkan kinerja lelang yang positif.
Division Head CRSD 2 BTN Roganda S. M. Siahaan mengatakan, Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara tidak hanya menjadi salah satu penopang kinerja BTN secara nasional, tetapi juga menorehkan prestasi.
Pada 2025, wilayah tersebut meraih predikat sebagai pelelang terbaik di lingkungan Kantor Wilayah DJKN Jawa Timur dan Kantor Wilayah DJKN Bali dan Nusa Tenggara (Bali Nusra).
“Kontribusi wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara juga signifikan terhadap kinerja lelang nasional, dengan share pelaksanaan lelang mencapai 23 persen dari total nasional dan pokok lelang terjual menyumbang sekitar 40 persen. Capaian ini menunjukkan besarnya peran wilayah tersebut dalam mendukung optimalisasi penjualan aset dan pemulihan kredit BTN,” ujarnya.
Roganda menjelaskan, Jawa Timur memiliki potensi pasar properti yang menarik, didukung oleh ketersediaan aset lelang yang beragam, nilai investasi yang menjanjikan, serta tingginya minat masyarakat untuk mengikuti lelang.
“Potensi tersebut menjadi peluang bagi BTN untuk terus meningkatkan penjualan aset sekaligus memperkuat upaya pemulihan kredit di kawasan tersebut,” lanjutnya.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun dan meningkatkan rasio keberhasilan lelang yang saat ini berada di kisaran 21 persen menuju target 35 persen, BTN menerapkan sejumlah langkah strategis secara komprehensif.
Perseroan memperluas jangkauan pemasaran digital melalui aplikasi Bale by BTN, situs Bale Lelang, media sosial, serta portal properti terkemuka seperti Rumah123 dan Pinhome.
BTN juga memperkuat sinergi kelembagaan dengan DJKN beserta jajaran Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), serta Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Upaya pemasaran turut dilakukan secara proaktif dan edukatif melalui kerja sama dengan agen properti.
Selain memperluas pemasaran, BTN menyediakan kemudahan pembiayaan melalui skema KPR Maju.
Fasilitas ini ditujukan bagi masyarakat yang berminat membeli aset lelang, tetapi belum memiliki dana tunai yang cukup.
Melalui skema tersebut, calon pembeli dapat memanfaatkan pembiayaan dengan suku bunga kompetitif, jangka waktu kredit yang optimal, uang muka ringan, serta proses pengajuan yang mudah.
“Lelang merupakan metode penjualan aset yang efektif. Karena itu, lelang akan tetap menjadi salah satu program kerja dan strategi utama BTN ke depan untuk mewujudkan perbaikan kualitas kredit yang berkelanjutan,” tutup Benjamin.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Property Expert Panangian Simanungkalit mengatakan, banyak yang mengatakan jika kondisi ekonomi sekarang ini lebih buruk jika dibandingkan lima tahun lalu.
Menurut Panangian, pendapat itu salah besar. “Ekonomi saat ini justru lagi bagus-bagusnya. Tahun 2020, 21, 22, 23, 24 itu pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 4 persen. Nah, sekarang ekonomi kita sudah tumbuh di atas 5,3 persen,” ujarnya.
Panangian mengamati, dengan pertumbuhan ekonomi yang sudah berjalan di angka 5 persen menuju 6 persen maka permintaan pasar mulai naik. “Dari mana lagi indikatornya, ya dari kredit properti. Karena itu lelang justru lagi naik ketika properti agak sedikit slowing down. Jadi, orang cari alternatif. Orang enggak lagi nunggu developer karena konsumen beli di lelang,” jelasnya.
Menurut Panangian, saat ini adalah waktu yang tepat membeli properti lewat lelang. Apalagi BTN membuat sebuah terobosan dengan fasilitas pembiayaan yang tidak dimiliki oleh bank-bank lain. (IRS)













