Umum

Awalnya Dikira Asal-asalan Melukis, SBY Gelar Pameran Tunggal dengan 100 Lukisan di Vosa Tower Surabaya

372
×

Awalnya Dikira Asal-asalan Melukis, SBY Gelar Pameran Tunggal dengan 100 Lukisan di Vosa Tower Surabaya

Sebarkan artikel ini
VISUAL: SBY (tengah) bersama Hermanto Tanoko (kanan) dam Suwarno Wisetrotomo memberikan keterangan kepada media di opening ceremony Pameran Tunggal Lukisan Susilo Bambang Yudhoyono di lantai 25 Vasa Tower Surabaya, Selasa petang (15/9/2026). (NOFIANISA/IB)

INVESTORBISNIS.COM – Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggelar pameran tunggal mulai hari ini, Rabu (16/9/2026), di Vosa Tower Surabaya.

Presiden RI keenam itu memamerkan 100 lukisannya untuk dinikmati masyarakat umum selama hampir dua pekan hingga 29 September 2026 nanti.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

SBY mengatakan, setiap lukisannya lahir dari satu perburuan yang sama, yaitu cahaya.

Seperti para pelukis impresionis yang mengejar perubahan warna langit dari fajar hingga senja, SBY menghabiskan hari demi hari mengamati bagaimana cahaya matahari menyentuh laut, awan, dan lanskap negeri lalu mengabadikannya di atas kanvas.

Namun bagi SBY, cahaya bukan sekadar unsur visual. “Cahaya adalah metafora dari harapan itu sendiri,” ujarnya saat opening ceremony Pameran Tunggal Lukisan Susilo Bambang Yudhoyono di lantai 25 Vasa Tower Surabaya, Selasa petang (15/9/2026).

Di balik setiap sapuan kuas, ada perjalanan hati yang panjang. Lebih dari lima tahun SBY melewati masa paling gelap dalam hidupnya sejak kepergian sang istri tercinta, Ani Yudhoyono.

Dari titik itulah ayah dua putra tersebut menemukan kembali seni lukis bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai jalan pulang menuju harapan. “Melukis menjadi source of hope saya,” ungkapnya.

Setiap kanvas yang ia selesaikan adalah bukti bahwa dari kesedihan yang paling dalam sekalipun, seseorang tetap bisa menemukan cahaya dan berjalan maju.

SBY mengaku pada awalnya dikira melukis asal-asalan. Tapi SBY terus melukis. Bahkan, pria kelahiran Pacitan itu selalu membawa alat lukisnya dalam setiap perjalanan.

“Maka lahirlah lukisan yang saya buat maupun selesaikan di pantai, rest area, bukit dan lainnya,” ujarnya.

Pameran tunggal ini mengajak masyarakat menyaksikan langsung 100 lukisan karya SBY, dari kenangan yang dirawat, ketenangan yang direnungkan, hingga keresahan atas dunia yang disuarakan lewat kanvas.

READ  Peduli Korban Kebakaran, YBM PLN UP3 Madura Beri Santunan Tunai

Momentum pembukaan pameran pada Selasa petang (15/9/2026) juga ditandai dengan peluncuran buku monograf berjudul “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang
Yudhoyono”.

Pembukaan pameran dihadiri banyak tokoh nasional dari beragam latar belakang, mulai dunia usaha, ekonomi kreatif, pemerintahan, dan figur publik.

Ada Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak, Menteri Pendidikan Kabinet Indonesia Bersatu II M. Nuh hingga pengusaha entertainment Raam Punjabi.

Gagasan pembuatan buku monograf ini berawal dari kekaguman pengusaha Hermanto Tanoko terhadap karya seni para pelukis Indonesia.

Di saat yang sama, Hermanto juga kerap terinspirasi oleh sosok dan perjalanan kepemimpinan SBY.

Kekaguman tersebut kemudian melahirkan sebuah gagasan untuk mendokumentasikan karya-karya lukis SBY dalam sebuah buku monograf.

Bertepatan dengan ulang tahun ke-77 SBY, buku monograf tersebut diluncurkan sebagai hadiah
istimewa sekaligus bentuk apresiasi Hermanto Tanoko terhadap sosok dan karya-karya lukis Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Hermanto, perkembangan seni membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Kolaborasi antara seniman, komunitas, dunia usaha, institusi, dan masyarakat menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun ekosistem seni yang semakin kuat.

“Bagi saya, melukis dan mengelola bisnis memiliki filosofi dasar yang sama. Keduanya membutuhkan visi yang jernih, kepekaan terhadap rasa, keberanian dalam mengambil keputusan, serta ketekunan dalam merajut setiap detailnya,” terang Hermanto.

Penyusunan buku monograf dan pameran ini turut melibatkan kurator ternama, Suwarno
Wisetrotomo.

Ia merupakan kurator Galeri Nasional Indonesia pada 1998–2024 dan telah menangani berbagai pameran berskala nasional, regional, hingga internasional.

Dalam proses penyusunannya, Suwarno juga melakukan wawancara eksklusif bersama SBY untuk menggali cerita, pemikiran, dan pengalaman yang melatarbelakangi setiap karya.

READ  Garuda Indonesia Ubah Perhitungan Bagasi Gratis Demi Permudah Proses Check-in

Kisah-kisah tersebut kemudian dirangkai dan dituangkan secara menarik ke dalam buku monograf serta dihadirkan kembali melalui pameran ini.

Lebih dari sekadar peluncuran buku, momentum ini menjadi bentuk penghormatan atas perjalanan hidup, proses kreatif, dan dedikasi SBY dalam berkarya.

Surabaya sebagai lokasi penyelenggaraan diharap menjadi salah satu titik penting bagi pengembangan seni lukis Indonesia.

Semangat utama yang dibawa adalah kolaborasi dan keterbukaan akses terhadap seni.

Dengan menghadirkan karya-karya SBY kepada masyarakat, pameran di Surabaya ini akan menumbuhkan ketertarikan baru terhadap seni lukis sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak ruang seni ke berbagai kalangan.

“Kita akan melihat sisi lain dari sosok Bapak SBY. Di balik perjalanan panjangnya sebagai seorang prajurit, negarawan, dan pemimpin bangsa, ternyata ada jiwa seorang seniman,” pungkas Hermanto. (MOQ)