BisnisUmum

Erupsi Anak Krakatau Ancam Keuangan Maskapai, Kerugian Bisa Capai Rp130 Miliar

391
×

Erupsi Anak Krakatau Ancam Keuangan Maskapai, Kerugian Bisa Capai Rp130 Miliar

Sebarkan artikel ini

INVESTORBISNIS.COM – Erupsi Gunung Anak Krakatau mulai mengancam stabilitas keuangan industri penerbangan nasional. Sebaran abu vulkanik yang melintasi ruang udara Flight Information Region (FIR) Jakarta berpotensi menggerus pendapatan maskapai hingga Rp19 miliar per hari akibat pembatalan penerbangan, pengalihan rute, hingga pembengkakan biaya operasional.

Indonesia National Air Carrier Association (INACA) memproyeksikan, jika gangguan ini berlanjut selama sepekan, akumulasi kerugian industri penerbangan dapat menembus Rp70 miliar hingga Rp130 miliar. Risiko tersebut dipicu oleh perkiraan 30 hingga 50 penerbangan yang terpaksa batal setiap harinya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto, menjelaskan bahwa dampak erupsi ini memberikan tekanan ganda bagi para pelaku industri penerbangan.

“Dampak bisnis ke maskapai bersifat ganda, yakni kehilangan pendapatan sekaligus menanggung lonjakan biaya operasional. Simulasi harian gangguan di CGK dan TKG menunjukkan potensi kerugian Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari dari 30–50 penerbangan yang batal, ekstra avtur, parkir pesawat, serta kompensasi penumpang,” kata Bayu, Selasa (8/9/2026).

Sebaran abu vulkanik ke arah timur laut paling berdampak pada dua simpul utama, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Radin Inten II Lampung (TKG). Posisi Bandara Radin Inten II yang dekat dengan titik erupsi menjadikannya jalur paling rentan. Rute padat seperti menuju Batam, Pontianak, serta rute internasional ke Australia juga terdampak.

Selain pembatalan, dampak dominan di Soekarno-Hatta berupa penundaan (holding) selama 60–120 menit. Sejumlah penerbangan domestik menuju Sumatra bagian selatan serta rute internasional terpaksa dialihkan memutar lewat utara Jawa, yang menambah waktu terbang sekitar 20–40 menit dan membengkakkan konsumsi avtur.

Apabila status Siaga dan kode Oranye bertahan, INACA memperkirakan 15%–25% penerbangan di CGK dan 40%–60% penerbangan di TKG akan terganggu. Hilangnya 50%–60% potensi pendapatan akibat refund tiket tidak dibarengi dengan penurunan biaya tetap (fixed cost) seperti leasing pesawat, gaji kru, dan akomodasi kompensasi penumpang.

READ  Erupsi Gunung Anak Krakatau, Lion Group Batalkan 288 Penerbangan

Tak hanya itu, armada yang terpapar abu vulkanik wajib menjalani pemeriksaan mesin (borescope check) untuk mengantisipasi kerusakan partikel abrasif, dengan biaya berkisar US$20.000 hingga US$50.000 (sekitar Rp320 juta–Rp800 juta) per mesin.

INACA menilai durasi gangguan lebih dari lima hari akan menjadi titik kritis yang sanggup menggerus target kinerja keuangan maskapai pada kuartal III dan IV tahun 2026. Kecepatan data Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) serta fleksibilitas lalu lintas udara oleh AirNav Indonesia kini menjadi kunci utama untuk menekan kerugian maskapai. (THP)