Umum

Ekonomi Perdesaan jadi Kunci Percepatan Atasi Kemiskinan Jawa Timur

224
×

Ekonomi Perdesaan jadi Kunci Percepatan Atasi Kemiskinan Jawa Timur

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Jatim Wara Sundari Renny Pramana. (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur menilai penguatan ekonomi perdesaan harus menjadi strategi utama dalam mempercepat pengentasan kemiskinan.

Meski saat ini jumlah penduduk miskin di Jawa Timur terus menunjukkan tren penurunan.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Anggota DPRD Jatim Wara Sundari Renny Pramana mengatakan, kemiskinan masih didominasi wilayah perdesaan dengan sekitar 2,13 juta jiwa.

“Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan kawasan perkotaan yang mencapai sekitar 1,58 juta jiwa,” kata Wara, Selasa (18/8/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut menegaskan pentingnya memperkuat sektor pertanian, perikanan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), koperasi, akses pembiayaan, serta hilirisasi produk lokal untuk meningkatkan pendapatan masyarakat desa.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Jawa Timur pada Maret 2026 mencapai 3,71 juta jiwa atau 9,06 persen dari total penduduk.

Angka itu menurun dibandingkan September 2025 yang tercatat sekitar 3,80 juta jiwa.

“Penurunan ini patut diapresiasi, tetapi masih menjadi pengingat bahwa perjuangan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat belum selesai,” kata Wara yang juga ketua fraksi PDIP Jatim.

Selain itu, Wara pemerintah perlu memperluas kesempatan kerja yang berkualitas.

Meski tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur pada Februari 2026 turun menjadi 3,55 persen, proporsi pekerja formal baru mencapai 35,56 persen.

“Yang dibutuhkan bukan hanya penurunan angka pengangguran, tetapi pekerjaan yang produktif, berpenghasilan layak, dan memiliki perlindungan,” ujarnya.

Ia juga mendorong penyelesaian target elektrifikasi hingga 100 persen dengan memastikan akses listrik mampu mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, khususnya keluarga berpenghasilan rendah.

Wara menambahkan, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari turunnya angka kemiskinan maupun pengangguran, melainkan dari meningkatnya jumlah keluarga yang mandiri secara ekonomi, memiliki pekerjaan layak, serta mampu memenuhi kebutuhan dasar secara berkelanjutan. (PVR)

READ  Dibuka untuk Mudik Lebaran, Tol Prosiwangi Diprediksi Dilalui 160 Ribu Kendaraan