Keuangan

Pakai Sistem Ekonomi Sirkular, BI Sulap Limbah Rupiah jadi Cendera Mata hingga Sumber Energi Listrik

225
×

Pakai Sistem Ekonomi Sirkular, BI Sulap Limbah Rupiah jadi Cendera Mata hingga Sumber Energi Listrik

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI: Bank Indonesia bekerja sama dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengolah limbah racik uang menjadi cendera mata. (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Melalui pendekatan ekonomi sirkular Bank Indonesia memanfaatkan limbah uang untuk menghasilkan nilai baru.

Langkah nyata yang ditempuh Bank Indonesia adalah bekerja sama dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengolah limbah racik uang menjadi cendera mata.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Bank sentral juga bermitra dengan perusahan pengolahan energi sehingga limbah racik uang digunakan menjadi tambahan sumber energi listrik ataupun industri.

Saat ini, 72 persen dari limbah racik uang kertas telah diolah. Selanjutnya, untuk tahun 2027, Bank Indonesia menargetkan seluruh limbah racik uang akan diolah secara sirkular.

Dengan langkah ini, pengelolaan uang Rupiah semakin memberikan manfaat bagi lingkungan dan perekonomian.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali mengatakan, pengelolaan uang menghadapi tuntutan lingkungan atau keberlanjutan (environmental sustainability).

Pengelolaan rupiah tidak berhenti ketika uang tidak lagi layak edar.

“Ketika uang tidak lagi layak edar, pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana memusnahkannya, tetapi bagaimana memberikan nilai baru melalui pemanfaatan yang produktif,” tegas Ricky.

Untuk menjawab perubahan tersebut, Bank Indonesia melakukan transformasi ramah lingkungan dalam proses pencetakan, pengedaran, dan pemusnahan uang rupiah.

“Inovasi pengelolaan uang Bank Indonesia ini telah meraih penghargaan International Association of Currency Affairs (IACA) Award 2026,” sambungnya.

Bank sentral di regional juga terus berupaya melakukan inovasi. Bank Negara Malaysia (BNM) mengolah limbah racik uang menjadi berbagai produk.

Bank of Thailand memilih bahan kertas yang lebih tahan lama untuk memperpanjang masa edar uang, mengurangi kebutuhan pencetakan ulang uang yang rusak atau usang, sekaligus mendukung efisiensi dan keberlanjutan pengelolaan uang.

Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan semakin menjadi bagian dari pengelolaan uang di berbagai negara.

READ  Penjelasan Pjs Gubernur BI soal Hasil Rapat KSSK dengan Presiden

Berbagai pengalaman ini menjadi diskusi dalam BRIDGE 2026, forum dialog internasional untuk ekosistem pengelolaan uang, yang digelar di Istora Senayan, Jakarta (13/8/2026).

Forum ini diselenggarakan oleh Bank Indonesia sebagai bagian dari FERBI 2026.

Dialog diikuti pula oleh bank sentral dan otoritas moneter India, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Papua Nugini, serta pelaku industri uang tunai internasional. (AWT)