Bisnis

Telkom Kantongi Pendapatan Rp 75,9 Triliun di Semester I/2026

354
×

Telkom Kantongi Pendapatan Rp 75,9 Triliun di Semester I/2026

Sebarkan artikel ini
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini. (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Menutup semester I/2026, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 75,9 triliun, tumbuh 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (YoY).

Sejalan dengan kinerja tersebut, EBITDA Telkom meningkat 3,8 persen YoY menjadi Rp 37,5 triliun dengan EBITDA margin sebesar 49,4 persen.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Laba bersih perusahaan plat merah ini juga tumbuh 1,4 persen YoY menjadi Rp 10,6 triliun, dengan margin laba bersih sebesar 14,0 persen.

Sementara itu, laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp 11,3 triliun atau tumbuh 6,2 persen YoY, dengan margin sebesar 14,9 persen.

Capaian ini mencerminkan ketahanan kinerja operasional Telkom yang didukung oleh pemulihan bisnis mobile.

Perseroan juga membukukan arus kas operasional yang kuat sebesar Rp 34,9 triliun atau tumbuh 7,0 persen YoY, didukung oleh implementasi program efisiensi berkelanjutan serta disiplin dalam pengelolaan biaya.

“Komitmen dan dedikasi kami dalam mengakselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30 tercermin dari pertumbuhan yang berhasil kami capai pada semester pertama tahun ini. Pencapaian tersebut semakin memperkuat optimisme kami untuk terus mempercepat transformasi sekaligus memperkuat peran Telkom sebagai pemimpin ekosistem digital Indonesia,” ujar Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom dikutip Minggu (2/8/2026).

Profitabilitas Segmen B2C Kian Kuat, Laba Bersih Meningkat 8,3 Persen YoY

Dian menjelaskan, pada segmen B2C (Mobile dan Fixed Broadband), Telkomsel membukukan pendapatan sebesar Rp 55,6 triliun atau tumbuh 3,3 persen YoY.

Capaian ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan Digital Business Data sebesar 11,0 persen pada semester I/2026.

“Kinerja tersebut mencerminkan berlanjutnya pemulihan industri mobile yang didukung oleh implementasi strategi komersial secara disiplin melalui penetapan harga, optimalisasi portofolio produk, dan pengelolaan nilai pelanggan,” jelas Dian.

READ  Dukung Energi Bersih, RSHS Bandung Pakai CNG dari PGN Gagas

Sejalan dengan hal tersebut, Average Revenue Per User (ARPU) mobile meningkat menjadi Rp 45.600 atau tumbuh 9,0 persen YoY.

Selain itu, payload data juga terus bertumbuh seiring meningkatnya konsumsi digital masyarakat selama momen liburan sekolah dan penyelenggaraan Piala Dunia, yang semakin mendorong tingginya kebutuhan pelanggan terhadap layanan data berkualitas.

Pada layanan fixed broadband, Telkomsel terus memperkuat kualitas layanan melalui kalibrasi strategis basis pelanggan.

Sebagai hasil dari upaya tersebut, jumlah pelanggan tercatat menjadi 9,5 juta dibandingkan 10,1 juta pada semester I/2025, dengan dampak yang terbatas terhadap pendapatan pada kuartal berjalan.

Secara kuartalan, ARPU IndiHome meningkat 3,4 persen menjadi Rp 211.000.

Adapun secara semesteran ARPU IndiHome tercatat sebesar Rp 207.000, di tengah persaingan harga yang masih berlangsung di pasar. “Meski demikian, rasio konvergensi terus meningkat menjadi 65 persen,” ujarnya.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi Telkom untuk membangun basis pelanggan yang lebih berkualitas, meningkatkan efektivitas monetisasi layanan, serta memperkuat pertumbuhan yang berkelanjutan.

Dia mengungkapkan, berbekal fondasi bisnis B2C yang semakin kuat, Telkomsel akan terus mengakselerasi strategi quality growth dengan menempatkan pengalaman pelanggan sebagai prioritas utama.

Sekaligus memperluas kapabilitas digital melalui pengembangan ekosistem. Upaya tersebut akan diperkuat melalui pemanfaatan teknologi AI dan 5G, serta pengembangan solusi digital yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan individu maupun pelaku usaha yang terus berkembang.

“Berbagai inisiatif ini diharapkan semakin memperkuat posisi Telkomsel sebagai pemimpin pasar sekaligus menciptakan nilai jangka panjang,” imbuhnya.

Penguatan Infrastruktur Digital Dorong Akselerasi Pertumbuhan Segmen B2B

Dian mengungkap, total pendapatan segmen B2B Infrastructure tumbuh 19,0 persen YoY menjadi Rp 33,1 triliun pada semester I/2026, dengan pendapatan eksternal meningkat 4,9 persen YoY menjadi Rp 4,7 triliun.

READ  Telkomsel Gandeng Warga Desa Bayu Kembangkan Potensi Lokal Lewat Baktiku Negeriku

Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan pendapatan Data, Internet, dan IT Service.

Pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower (FTTT), Mitratel membukukan pendapatan sebesar Rp 4,7 triliun atau tumbuh 2,1 persen YoY, dengan Tower-Related Business tetap menjadi penopang utama pendapatan.

Selain itu, total tenant meningkat menjadi 63.866 atau tumbuh 4,9 persen YoY sehingga mendorong rasio penyewaan (tenancy ratio) menara menjadi 1,57x.

“Pada bisnis data center, kami terus memperkuat posisi sebagai penyedia infrastruktur digital regional melalui NeutraDC,” tegasnya.

Didukung meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur digital, Telkom terus memperkuat bisnis ini melalui inisiatif konsolidasi yang akan menjadikan NeutraDC sebagai pengelola terpusat seluruh aset data center TelkomGroup.

Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas layanan, mengoptimalkan monetisasi aset, serta mendorong pertumbuhan melalui kolaborasi dengan mitra strategis.
Sementara pada Segmen B2B ICT, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 7,3 triliun, tumbuh 35,7 persen QoQ meskipun masih terdampak oleh proses restrukturisasi portofolio dan streamlining yang tengah berlangsung.

Pada Segmen International Business, pendapatan tercatat sebesar Rp 5,7 triliun pada periode ini.

Seiring pergeseran portofolio bisnis menuju layanan konektivitas dan solusi digital dengan margin yang lebih tinggi serta berkurangnya ketergantungan pada bisnis traditional voice hubbing, Telkom optimistis langkah tersebut akan mendorong peningkatan margin EBITDA dalam beberapa tahun ke depan.

Saat ini, permintaan terhadap kapasitas baru kabel bawah laut internasional terus meningkat, didorong oleh dinamika geopolitik global serta kebutuhan berbagai perusahaan teknologi besar dunia dalam mendukung adopsi teknologi AI. (UIM)