Keuangan

Digempur Banyak Tekanan, OJK Sebut Stabilitas Sektor Keuangan Tetap Terjaga

313
×

Digempur Banyak Tekanan, OJK Sebut Stabilitas Sektor Keuangan Tetap Terjaga

Sebarkan artikel ini
DARING: Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Juni 2026 dengan narasumber seluruh Anggota Dewan Komisioner (ADK) OJK yang digelar secara daring, Selasa (7/7/2026). (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 1 Juli 2026 menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) terjaga di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Frederica Widyasari Dewi menjelaskan, perkembangan terkini ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut mengurangi tekanan di pasar energi global.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Hal itu tercermin dari harga minyak yang kembali mendekati level sebelum konflik dan berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi.

“Kendati demikian, risiko geopolitik masih perlu dicermati mengingat stabilitas kawasan masih rentan terhadap potensi eskalasi baru,” kata Frederica saat Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Juni 2026 dengan narasumber seluruh Anggota Dewan Komisioner (ADK) OJK yang digelar secara daring, Selasa (7/7/2026).
Lebih jauh ia menjelaskan, indikator perekonomian global di atas ekpektasi pasar, namun mengalami divergensi antarnegara di tengah tekanan inflasi yang meningkat.

Amerika Serikat cenderung resilien dengan pasar tenaga kerja yang solid namun inflasi mengalami kenaikan, sementara Tiongkok masih menghadapi lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta.

“Di Eropa, aktivitas ekonomi masih tertahan oleh permintaan yang lemah meskipun sektor manufaktur mulai membaik,” lanjutnya.

Frederica mengungkap, Pada Juni 2026, OECD dan World Bank merevisi ke bawah outlook pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 2,8 persen dan 2,5 persen, namun berpotensi semakin menurun jika konflik kembali meningkat atau gangguan pasokan komoditas energi berlangsung berkepanjangan.

“Prospek pertumbuhan yang masih dibayangi lemahnya permintaan global, perlambatan ekonomi Tiongkok, serta meningkatnya prospek higher for longer, mempengaruhi risk appetite investor global di pasar keuangan,” jelasnya.

Di domestik, lanjut Frederica, indikator ekonomi termoderasi di tengah mulai meningkatnya tekanan inflasi.

READ  Likuiditas Perbankan Nasional Dinilai Masih Kuat, OJK Pantau Risiko Global

Sementara itu, PMI manufaktur melemah, surplus perdagangan menyempit dan cadangan devisa menurun, namun stabilitas tetap terjaga melalui bauran kebijakan fiskal dan moneter.

“Sejalan dengan perkembangan tersebut, stabilitas sektor keuangan tetap terjaga didukung oleh meredanya tekanan eksternal dan respons kebijakan yang memadai,” pungkasnya. (OPI)