INVESTORBISNIS.COM – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 mencatat surplus sebesar USD 3,32 miliar.
Surplus Maret 2026 ini meningkat dibandingkan surplus pada Februari 2026 sebesar USD 1,27 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Denny Ramdan Prakoso mengatakan, bank sentral memandang kenaikan surplus neraca perdagangan ini positif untuk menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia lebih lanjut.
“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pmerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata Denny, Selasa (5/5/2025).
Ia menjelaskan, surplus neraca perdagangan yang lebih tinggi terutama bersumber dari surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat.
Neraca perdagangan nonmigas pada Maret 2026 mencatat surplus sebesar USD 5,21 miliar, seiring dengan meningkatnya ekspor nonmigas sebesar USD 21,25 miliar.
“Kinerja positif ekspor nonmigas tersebut terutama didukung oleh ekspor berbasis sumber daya alam seperti logam mulia dan perhiasan/permata serta bahan bakar mineral maupun ekspor produk manufaktur seperti besi dan baja,” jelasnya.
Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi kontributor utama ekspor Indonesia.
“Defisit neraca perdagangan migas tercatat meningkat menjadi sebesar USD 1,89 miliar pada Maret 2026 sejalan dengan peningkatan impor migas yang lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan ekspor migas,” pungkas Denny. (TAL)













