Bisnis

Tumbuh 15 Persen Lebih, Ekspor Industri Fesyen di 2025 Tembus USD 806,6 Juta

319
×

Tumbuh 15 Persen Lebih, Ekspor Industri Fesyen di 2025 Tembus USD 806,6 Juta

Sebarkan artikel ini
BANYAK MOTIF: Batik menjadi salah satu industri fesyen original Indonesia. (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Sektor industri fesyen dan kriya memiliki potensi ekspor yang besar dan perlu terus dioptimalkan.

Pada tahun 2025, nilai ekspor sektor ini mencapai USD 806,63 juta atau meningkat signifikan sebesar 15,46 persen dibanding tahun sebelumnya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Pertindustrian (Kemenperin) Reni Yanita menyampaikan, pihaknya secara rutin meningkatkan literasi pelaku IKM kriya dan fesyen.

Salah satunya melalui kegiatan Creative Talk yang diselenggarakan Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Bali.

Pada sesi Creative Talk 1 bertajuk “Merancang Nilai Produk Sesuai dengan Kebutuhan Pasar” yang digelar pada 16 April 2026 di Gedung Auditorium BPIFK, para peserta yang terdiri atas akademisi, praktisi, komunitas, dan pelaku IKM berdiskusi langsung mengenai strategi perancangan produk agar memiliki nilai tambah lebih tinggi.

“Ini merupakan strategi pemerintah dalam meningkatkan kapasitas SDM pelaku IKM, khususnya untuk memahami kebutuhan pasar serta merancang produk bernilai tambah. Penguatan literasi bisnis dan strategi desain mutlak diperlukan agar produk fesyen dan kriya IKM tidak hanya unggul secara estetika, tetapi juga kuat secara komersial,” tutur Reni dikutip, Kamis (30/4/2026).

Menurutnya, industri fesyen dan kriya Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.

Namun, konsistensi dalam menghasilkan produk yang relevan dan sesuai kebutuhan konsumen masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku IKM.

“Rangkaian kegiatan ini dirancang sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya saing industri fesyen dan kriya Indonesia melalui berbagai program pembinaan, seperti workshop dan bimbingan teknis berkelanjutan,” tambahnya.

Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) Dickie Sulistya Aprilyanto menyampaikan, hasil riset menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama kegagalan bisnis adalah ketidaksesuaian antara produk yang dihasilkan dengan kebutuhan pasar.

READ  Pertamina Tambah 23 Juta Tabung LPG 3 Kg, Antisipasi Lonjakan Kebutuhan Lebaran

“Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan usaha tidak hanya bergantung pada kemampuan produksi, tetapi juga kemampuan memahami dan menjawab kebutuhan pelanggan. Kreativitas perajin perlu diselaraskan dengan kebutuhan pasar,” ujarnya. (RKU)