INVESTORBISNIS.COM – Peluang impor tembakau Virginia dari Pakistan ke Jawa Timur, terbuka seiring tingginya kebutuhan industri hasil tembakau (IHT) di daerah terkait.
Namun, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur berharap kerja sama perdagangan itu tidak sebatas mendatangkan bahan baku, tetapi juga disertai transfer teknologi, pengembangan bibit, dan kerja sama budidaya agar memberikan nilai tambah bagi industri tembakau di dalam negeri.
Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto mengatakan, Jawa Timur merupakan salah satu sentra utama tembakau nasional sekaligus provinsi dengan jumlah industri hasil tembakau terbanyak di Indonesia.
Di sisi lain, kebutuhan tembakau Virginia untuk industri rokok di Jatim masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.
“Boleh-boleh saja mereka masuk ke sini. Namun, kami berharap ada tukar teknologi. Jadi, tidak hanya membawa tembakau dari negara tertentu, tetapi juga ada kerja sama budidaya, pengembangan bibit, dan teknologinya,” ujar Adik Dwi Putranto saat kunjungan industri Pakistan ke Graha Kadin Jatim, Rabu (21/10/2026).
Menurut Adik, tembakau Virginia menjadi salah satu komoditas yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui kerja sama dengan negara-negara pemasok.
Selain Pakistan, sejumlah negara yang selama ini menjadi sumber pasokan tembakau Virginia untuk Indonesia antara lain Brasil dan Zimbabwe.
Negara-negara tersebut memiliki potensi pasokan karena produksi tembakau Virginia di negara asal relatif melimpah.
Sementara itu, industri hasil tembakau di Jawa Timur membutuhkan pasokan Virginia dalam jumlah besar, tetapi produksi lokalnya masih terbatas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, produksi tembakau Jawa Timur pada 2025 mencapai 148,77 ribu ton dengan luas panen 125,54 ribu hektare.
Jumlah tersebut menyumbang 46,22 persen dari total produksi tembakau nasional yang mencapai 321,90 ribu ton.
Jawa Timur juga memiliki beragam varietas tembakau yang dikembangkan sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan industri.
Di antaranya Besuki Na Oogst dari wilayah Jember dan Bondowoso yang banyak dimanfaatkan untuk cerutu ekspor, Kasturi dan Virginia yang dibudidayakan di sejumlah wilayah termasuk Madura dan Situbondo, serta White Burley dari Lumajang untuk kebutuhan rokok putih mesin.
Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) Kementerian Perindustrian hingga akhir 2024, jumlah industri hasil tembakau di Jawa Timur mencapai 1.352 unit.
Besarnya basis industri tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pasar Jawa Timur menarik bagi pemasok tembakau dari luar negeri.
Adik menilai, peluang perdagangan tembakau impor seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan produksi di dalam negeri.
Salah satu tantangannya adalah mengembangkan varietas Virginia yang sesuai dengan kondisi agroklimat Indonesia sehingga ketergantungan terhadap pasokan impor dapat dikurangi.
“Ini bisa menjadi bahan kajian bagi kampus yang memiliki basis pertanian, balai penelitian, maupun lembaga riset lainnya. Bagaimana menghasilkan tembakau Virginia yang benar-benar bisa dibudidayakan di Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan, Kadin Jatim juga tengah menjajaki kerja sama dengan salah satu negara yang belum dapat disebutkan namanya.
Penjajakan tersebut mencakup pengembangan budidaya, penyediaan bibit, dan transfer teknologi, termasuk peluang pembangunan pabrik di Jawa Timur.
Menurut Adik, pola kerja sama semacam itu akan memberikan manfaat yang lebih luas dibandingkan perdagangan bahan baku semata.
Selain membuka peluang investasi, kerja sama tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan petani dan pelaku industri lokal dalam mengembangkan tembakau Virginia.
Sementara itu, Chief Executive Officer Nsyniyaz Tobacco Company, Shaheer Kham, mengatakan perusahaannya telah menjalin komunikasi bisnis dengan Indonesia selama sekitar dua tahun.
Kunjungan terbarunya ke Indonesia merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan dengan calon pembeli dan menjajaki peluang perdagangan tembakau Pakistan.
“Kami sangat senang dengan upaya yang telah dilakukan untuk menjalin hubungan dengan pembeli di sini. Kami menantikan peluang bisnis dengan pasar Indonesia, khususnya pembeli di industri tembakau,” ujarnya.
Shaheer menilai Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan seiring berkembangnya industri tembakau.
Perusahaannya ingin memperkenalkan produk tembakau Pakistan kepada pembeli Indonesia sekaligus membangun hubungan bisnis jangka panjang.
Ia mengakui tembakau Pakistan masih perlu memperluas pengenalan pasar di Indonesia.
Menurutnya, harga menjadi salah satu tantangan dalam persaingan dengan produk dari negara lain, termasuk India dan Bangladesh.
Meski demikian, ia mengeklaim tembakau Pakistan memiliki kualitas yang lebih baik.
Shaheer menyebut perbedaan harga atau nilai produk tembakau Pakistan dengan produk Bangladesh dapat mencapai sekitar 25–30 persen, meskipun perbandingan tersebut masih perlu dilihat berdasarkan jenis, kualitas, dan spesifikasi produk yang diperdagangkan.
“Kami ingin membangun hubungan dengan pembeli Indonesia. Masyarakat di sini sangat ramah dan menyambut kami dengan baik. Kami berharap dapat mengembangkan bisnis bersama mereka,” katanya.
Bagi Kadin Jatim, masuknya pemasok tembakau dari Pakistan maupun negara lain dapat menjadi peluang untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri.
Namun, kerja sama tersebut diharapkan berkembang menjadi kemitraan yang lebih strategis melalui transfer pengetahuan, teknologi, dan pengembangan budidaya di dalam negeri. (NTZ)













