INVESTORBISNIS.COM – Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi hari ini, Jumat (16/10/2026) masih terus berlanjut usai penghentian sementara (trading halt) perdagangan selama 30 menit dicabut.
Trading halt dilakukan begitu dibukanya perdagangan pagi ini karena IHSG anjlok 8,01 persen.
Setelah trading halt dicabut, IHSG terus ambles 11,2 persen hingga menyentuh level 5.199,13.
Bloomberg menyebut jika angka tersebut sekaligus menjadi yang terendah sejak 2020 atau terlemah dalam enam tahun lebih perdagangan saham.
Sepanjang perdagangan pagi hari ini IHSG makin ambles terjerembab di zona merah, dengan tekanan jual yang makin deras.
Rentang perdagangan terjadi pada area level 5.404,5 sampai dengan terendahnya hingga menyentuh 5.193,22.
Transaksi perdagangan saham didominasi aksi jual dengan volume mencapai 8,61 miliar saham dan nilai transaksi Rp3,17 triliun. Frekuensi yang terjadi sebanyak 244 ribu kali diperjualbelikan.
Hanya ada 18 saham yang menguat. Sedangkan sebanyak-banyaknya 675 saham melemah dan 30 saham lainnya tidak bergerak.
Ambrolnya IHSG hari ini tergencet sentimen terhadap potensi dikeluarkan dari indeks saham global setelah MSCI menyatakan bahwa Indonesia dinilai tidak lagi memenuhi syarat untuk menyandang status pasar Emerging Market.
MSCI saat ini, disebut sedang melakukan konsultasi atas usulan untuk mengklasifikasi ulang Indonesia sebagai pasar mandiri alias Standalone Market.
Usulan tersebut didasarkan pada kekhawatiran mengenai disfungsi pasar dan minimnya bukti penegakan aturan yang efektif.
Perubahan klasifikasi menjadi pasar mandiri berpotensi membuat investor menjual kepemilikan saham di Indonesia.
Untuk diketahui, pasar saham terus-menerus bergejolak hebat. Secara month-to-date (mtd) atau sepanjang bulan Oktober, investor melepas kepemilikannya di pasar saham sebesar USD 212,5 juta, dan sejak awal tahun (year-to-date/ytd) senilai USD 4,87 miliar. (WAK)













