INVESTORBISNIS.COM – Mendorong generasi muda menjadi entrepreneur tidak cukup hanya dengan memberikan motivasi.
Dibutuhkan ekosistem yang mendukung, pendampingan, akses permodalan, hingga ruang untuk menguji inovasi sebelum dipasarkan.
Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Diplomat Success Challenge (DSC) Special Roadshow di Hal Gedung Science Technopark Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jumat (9/10/2026).
Mengusung tema From Innovation to Impact: Merdeka Berkarier, Berani Jadi Founder, kegiatan yang digelar di Hall Gedung Science Technopark ITS tersebut mempertemukan akademisi, pemerintah, pelaku usaha, serta founder muda untuk membahas peluang dan tantangan membangun karier sekaligus menciptakan bisnis berdampak.
Hadir dalam kegiatan itu Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Wakil Rektor III ITS Imam Baihaqi, Ketua Dewan Komisioner DSC Surjanto Yasaputera, serta dua entrepreneur muda, yakni Alvon Yulius, Founder Avara Custom Indonesia sekaligus Grand Finalist DSC 2018, dan Kevin Ananta, CFO sekaligus Co-Founder Vityuu serta Grand Finalist DSC 2025.
Dalam kesempatan tersebut, Emil menekankan pentingnya membangun ekosistem kewirausahaan yang memungkinkan anak muda mengembangkan ide hingga menjadi usaha berkelanjutan.
Menurut dia, ajakan agar generasi muda menciptakan lapangan kerja tidak akan cukup tanpa dukungan yang konkret.
Dia mengapresiasi konsistensi DSC yang telah memasuki tahun ke-17 dalam memberikan ruang bagi calon pengusaha untuk mengembangkan gagasan bisnis, memperoleh pendampingan, dan memperluas jejaring.
Salah satu gagasan yang disorot Emil adalah pengembangan sandbox kewirausahaan, yakni ruang uji coba bagi wirausaha pemula untuk menguji kelayakan produk sebelum masuk ke pasar yang lebih luas.
Melalui mekanisme tersebut, calon pengusaha diharapkan dapat mengukur respons konsumen, menentukan harga yang kompetitif, mengenali pesaing, serta menemukan faktor yang menentukan keberhasilan bisnis sejak tahap awal.
“Jangan sampai kemampuan mereka berinovasi itu terkungkung oleh ruwetnya regulasi. Di sini fungsi pemerintah harusnya membuat hal-hal ini jadi lebih mudah,” ujar Emil.
Dia menyebut, gagasan tersebut akan ditindaklanjuti melalui komunikasi dengan DSC dan ITS.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim juga berencana menjalin komunikasi dengan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk membahas kemungkinan pengembangannya.
Emil menilai, proses membangun wirausaha membutuhkan pembinaan yang berkelanjutan. Sebab, perjalanan seorang entrepreneur tidak selalu bertumpu pada satu jenis bisnis.
Kemampuan beradaptasi, membaca peluang, dan terus berinovasi justru menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan pasar.
“Yang harus kita cetak itu apa? Entrepreneur-nya atau wirausahanya ini. Nah, ini yang dicoba dibangun di DSC,” katanya.
Emil juga mencontohkan inovasi yang lahir dari kolaborasi alumni DSC, yakni produk ear monitor yang dikembangkan bersama produk mikrofon milik alumni lainnya hingga berpeluang dipamerkan di luar negeri.
Selain itu, ada inovasi berupa spray untuk memberikan sugesti rasa manis yang dikembangkan mahasiswa ITS.
Produk tersebut ditujukan untuk membantu mengurangi keinginan mengonsumsi makanan manis secara berlebihan, sejalan dengan tren gaya hidup sehat.
Menurut Emil, inovasi tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk menciptakan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Pemprov Jatim, lanjut dia, juga berpeluang mendukung pemasaran produk melalui berbagai program pemerintah, seperti misi dagang dan kegiatan promosi.
Dengan begitu, produk yang dihasilkan entrepreneur muda dapat memperoleh akses pasar yang lebih luas.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner DSC Surjanto Yasaputera mengatakan, DSC tidak hanya memberikan hibah modal usaha, tetapi juga membangun ekosistem kewirausahaan melalui edukasi, pendampingan, dan akses jejaring Diplomat Entrepreneur Network (DEN).
Memasuki tahun ke-17, DSC bertransformasi melalui Founders Arena dengan mengedepankan keterbukaan, inklusivitas, kolaborasi, dan kesempatan yang setara bagi para pendiri usaha di Indonesia.
Surjanto menjelaskan, ada tiga unsur penting dalam membangun pola pikir kewirausahaan, yakni kemauan personal, pengetahuan (knowledge), dan keterampilan (skill).
Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, sedangkan keterampilan perlu diasah melalui latihan dan pengalaman.
Namun, menurut dia, kedua unsur tersebut tidak akan optimal tanpa kemauan untuk memulai dan bertahan menghadapi tantangan.
“Kalau kita enggak ada kemauan, ya tentu sulit. Kemudian skill, biasanya ini harus dilalui dengan latihan. Jadi, kalau sudah mau melakukan sesuatu, kemudian dilatih skill-nya, knowledge-nya didapatkan dari sumber mana pun, pola pikir wirausahawan itu sudah terbentuk,” jelasnya.
Melalui dukungan tersebut, DSC berupaya membantu entrepreneur muda tidak hanya memiliki ide kreatif, tetapi juga kesiapan untuk mengembangkan bisnis secara profesional dan berkelanjutan.
Dukungan terhadap pengembangan entrepreneur muda juga menjadi bagian dari strategi ITS.
Wakil Rektor III ITS Imam Baihaqi mengatakan, kampusnya tengah bertransformasi dari Research University menuju Entrepreneurial University.
Transformasi tersebut tidak sekadar bertujuan mencetak lulusan yang mendirikan perusahaan, tetapi juga menghasilkan sarjana yang memiliki jiwa kewirausahaan, mampu mencari peluang, dan berani menyelesaikan persoalan melalui inovasi.
“Artinya, kita bukan hanya menciptakan entrepreneur-entrepreneur, tetapi kita menciptakan lulusan yang berjiwa entrepreneur,” ujarnya.
Imam menjelaskan, ITS telah mengembangkan berbagai ekosistem untuk mendukung kewirausahaan, termasuk pusat pengembangan karier dan kewirausahaan serta Science Technopark.
Kampus juga menanamkan pola pikir entrepreneur sejak mahasiswa baru melalui mata kuliah wajib technopreneurship.
Menurut dia, mahasiswa perlu dibiasakan melihat persoalan di sekitarnya sebagai peluang untuk menciptakan produk atau jasa yang bermanfaat.
Tidak semua inovasi harus berupa teknologi rumit. Solusi sederhana pun berpotensi menghasilkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memberikan dampak sosial.
“Cara untuk memulai usaha itu adalah carilah masalah di sekitar kita, selesaikan masalah itu dengan solusi-solusi bisnis,” tuturnya.
Imam turut mendorong pengembangan social entrepreneurship, yakni pendekatan kewirausahaan untuk menyelesaikan persoalan sosial melalui model bisnis yang berkelanjutan. (UHY)













