INVESTORBISNIS.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar Rapat Dewan Komisioner Bulanan di Jakarta pada Rabu (30/9/2026).
Salah satu hasil rapat adalah OJK menilai Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, pertumbuhan ekonomi global di 2026 diperkirakan lebih rendah dari 2025 meski lebih baik dari proyeksi pertumbuhan sebelumnya.
“Hal ini didukung oleh peningkatan investasi dan perdagangan terkait dengan pengembangan AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan, Red),” kata Kiki, sapaan karib Friderica Widyasari Dewi dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan September 2026 yang dihelat secara daring, Senin (5/10/2026).
Namun demikian, lanjut Kiki, keberlanjutan momentum pertumbuhan masih menghadapi tantangan dari kenaikan inflasi global akibat eskalasi konflik geopolitik yang kembali menaikkan harga minyak, serta very strong El Nino yang berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan komoditas pertanian.
“Kenaikan inflasi telah memicu kebijakan suku bunga global higher for longer, ditandai dengan kenaikan suku bunga kebijakan di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang, dengan pasar masih mengekspektasikan kenaikan suku bunga di akhir 2026 dan terus berlanjut di 2027,” urainya.
Kiki menjelaskan, imbal hasil obligasi pemerintah juga menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir, dengan imbal hasil obligasi pemerintah di AS dan Eropa kembali ke level sebelum 2008 dan di Jepang ke level sebelum 1997.
“Kenaikan ini turut dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah dan peningkatan penerbitan obligasi jangka panjang oleh hyperscaller untuk investasi terkait AI,” ujarnya.
Di domestik, Kiki menyebut indikator terkini menunjukkan perekonomian relatif stabil dengan inflasi masih terjaga sesuai target pemerintah, di tengah kenaikan inflasi secara global.
“Terjaganya inflasi mendorong permintaan domestik dan tingkat konsumsi masyarakat tetap kuat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional,” tegasnya.
Sejalan dengan itu, OECD meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 sebesar 0,5 persen.
“Keputusan itu mencerminkan kepercayaan global terhadap daya tahan perekonomian nasional di tengah tingginya ketidakpastian global,” sebutnya.
Kiki menambahkan, perkembangan positif tersebut didukung oleh sektor keuangan yang terus berkontributif terhadap pertumbuhan.
“Serta stabilitas sektor keuangan yang tetap terjaga dengan fundamental industri jasa keuangan yang solid,” pungkas Kiki. (KHY)













