Bisnis

Neraca Dagang Jatim Januari-Juli 2026 Defisit USD 3,44 Miliar, Ini Penyebabnya

301
×

Neraca Dagang Jatim Januari-Juli 2026 Defisit USD 3,44 Miliar, Ini Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI. (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur menghadapi tekanan sepanjang Januari-Juli 2026.

Nilai ekspor Jawa Timur tercatat USD 16,08 miliar atau turun 5,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara impor justru meningkat 16,56 persen menjadi USD 19,52 miliar.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Jawa Timur mengalami defisit USD 3,44 miliar sepanjang tujuh bulan pertama 2026.

Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur Herum Fajarwati mengatakan, nilai ekspor Jawa Timur pada Januari-Juli 2026 mencapai USD 16,08 miliar.

Angka itu turun dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai USD 16,99 miliar.

“Nilai ekspor Jawa Timur Januari-Juli 2026 senilai USD 16,08 miliar atau turun 5,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025,” kata Herum dikutip Minggu (4/10/2026).

Penurunan ekspor terutama terjadi pada komponen nonmigas. Nilai ekspor nonmigas selama Januari-Juli 2026 mencapai USD 15,90 miliar, turun 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, ekspor migas turun lebih dalam, yakni 48,07 persen dari USD 349,45 juta menjadi USD181,47 juta.

Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi anjloknya ekspor minyak mentah sebesar 65,54 persen menjadi USD 109,28 juta.

Pada Juli 2026 saja, nilai ekspor Jawa Timur mencapai USD 2,65 miliar.

Angka tersebut naik 5,19 persen dibandingkan Juni 2026, tetapi masih turun 9,15 persen dibandingkan Juli 2025.

Ekspor nonmigas pada Juli 2026 mencapai USD 2,64 miliar atau turun 7,94 persen secara tahunan.

Tembaga Jadi Penopang Ekspor

Di tengah pelemahan ekspor secara keseluruhan, sejumlah komoditas masih mencatat pertumbuhan. Tembaga menjadi salah satu penopang utama.

Nilai ekspor tembaga selama Januari-Juli 2026 mencapai USD 2,08 miliar, meningkat 39,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

READ  PGN Diapresiasi BPH Migas 2025 Berkat Peran Strategis di Hilir Migas

Komoditas tersebut terutama dikirim ke China dengan nilai USD 565,08 juta dan Thailand sebesar USD 562,13 juta.

Ekspor lemak dan minyak hewani/nabati juga meningkat 28,41 persen menjadi USD 1,67 miliar.

Sementara ekspor ikan, krustasea, dan moluska naik 3,55 persen menjadi USD 707,89 juta.

Sebaliknya, komoditas perhiasan/permata mengalami penurunan paling dalam di antara sepuluh kelompok barang ekspor nonmigas utama.

Nilainya turun 54,17 persen menjadi
USD 1,73 miliar.

Penurunan juga terjadi pada berbagai produk kimia yang turun 8,75 persen menjadi USD 675,51 juta serta tembakau dan rokok yang turun 7,30 persen menjadi USD 611,46 juta.

Secara sektoral, industri pengolahan masih menjadi tulang punggung ekspor Jawa Timur.

Nilainya mencapai USD 15,22 miliar atau sekitar 94,64 persen dari total ekspor Januari-Juli 2026.

Namun, angka tersebut turun 3,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor sektor pertanian juga turun 18,69 persen menjadi USD 656,36 juta.

Sementara ekspor sektor pertambangan dan lainnya turun 31,84 persen menjadi USD 23,63 juta.

Impor Justru Tumbuh Dua Digit

Berbanding terbalik dengan ekspor, arus impor Jawa Timur justru meningkat cukup kuat.

BPS mencatat nilai impor Januari-Juli 2026 mencapai USD 19,52 miliar, naik 16,56 persen dibandingkan periode yang sama 2025 yang sebesar USD 16,74 miliar.

Kenaikan terjadi baik pada impor nonmigas maupun migas. Impor nonmigas naik 14,16 persen menjadi USD 15,91 miliar, sedangkan impor migas meningkat 28,48 persen menjadi USD 3,61 miliar.

Pada Juli 2026, impor Jawa Timur mencapai USD 3,01 miliar atau naik 19,50 persen dibandingkan Juli 2025.

Dibandingkan Juni 2026, impor juga meningkat 7,09 persen.

Dari 10 kelompok barang impor nonmigas utama, buah-buahan mencatat pertumbuhan tertinggi secara persentase, yakni 35,87 persen menjadi USD 812,48 juta.

READ  InJourney Airports Gandeng Lima Maskapai Internasional Masuk Indonesia

Impor besi dan baja juga meningkat 28,04 persen menjadi USD 1,12 miliar.

Sementara impor pupuk naik 26,88 persen menjadi USD 855,83 juta.

Mesin dan peralatan mekanis tetap menjadi salah satu komponen impor terbesar.

Nilainya mencapai USD 1,67 miliar atau naik 13,70 persen dibandingkan Januari-Juli 2025.

Jika dilihat berdasarkan penggunaan barang, impor Jawa Timur masih didominasi bahan baku dan penolong dengan nilai USD 15,57 miliar atau 79,75 persen dari total impor.

Impor barang modal mencapai USD 1,78 miliar atau naik 34,86 persen. Adapun impor barang konsumsi mencapai USD 2,17 miliar atau meningkat 17,95 persen.

China Dominan dalam Perdagangan Jatim
China menjadi mitra utama perdagangan Jawa Timur, baik sebagai tujuan ekspor maupun sumber impor.

Selama Januari-Juli 2026, ekspor nonmigas Jawa Timur ke China mencapai USD 2,70 miliar, naik 29,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Nilai tersebut menyumbang 16,99 persen dari total ekspor nonmigas Jatim.

Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar berikutnya dengan nilai USD 2,39 miliar, disusul Jepang USD 1,34 miliar.

Di sisi impor, dominasi China bahkan lebih besar. Nilai impor nonmigas Jawa Timur dari China mencapai USD 6,32 miliar atau 39,74 persen dari total impor nonmigas.

Barang yang banyak didatangkan dari China antara lain mesin dan peralatan mekanis senilai USD 872,82 juta, buah-buahan USD 740,29 juta, serta besi dan baja USD 659,72 juta.

Sementara itu, impor nonmigas dari kawasan ASEAN mencapai USD 1,76 miliar, naik tipis 0,39 persen.

Adapun impor dari Uni Eropa mencapai USD 947,58 juta atau tumbuh 11,50 persen.

Defisit Perdagangan Capai USD 3,44 Miliar
Perbedaan laju ekspor dan impor tersebut akhirnya tercermin pada neraca perdagangan Jawa Timur.

READ  Kadin Jatim Sebut Tantangan Investasi Bukan Potensi, tapi Kesiapan Eksekusi

Sepanjang Januari-Juli 2026, ekspor Jatim sebesar USD 16,08 miliar, sedangkan impor mencapai USD 19,52 miliar.

Dengan demikian, Jawa Timur mencatat defisit perdagangan sebesar USD 3,44 miliar.

Defisit terutama bersumber dari sektor migas yang mencapai USD 3,43 miliar. Sementara neraca perdagangan nonmigas relatif berimbang, tetapi masih mencatat defisit tipis USD 8,81 juta.

Pada Juli 2026 saja, Jawa Timur mencatat defisit perdagangan USD 354,08 juta. Nilai ekspor sebesar USD 2,65 miliar masih lebih rendah dibandingkan impor yang mencapai USD 3,01 miliar.

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap perdagangan Jawa Timur pada tujuh bulan pertama 2026 tidak hanya berasal dari pelemahan ekspor, tetapi juga dari meningkatnya kebutuhan impor.

Di tengah kondisi tersebut, industri pengolahan tetap menjadi basis utama ekspor, sementara impor masih didominasi bahan baku, barang penolong, dan barang modal. (FQR)