Bisnis

Potensi Ekonomi Haji dan Umrah Indonesia Tembus Rp 80 Triliun

295
×

Potensi Ekonomi Haji dan Umrah Indonesia Tembus Rp 80 Triliun

Sebarkan artikel ini
PANTAU: Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf hadir secara resmi di Business Matching Expo UMKM dan Ekosistem Haji dan Umrah Tahun 2026 di Stadion Wilis, Kota Madiun, Sabtu (26/9/2026). (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, mengalahkan Pakistan, India, Bangladesh, dan Mesir.

Data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri menyebutkan, jumlah penduduk muslim Indonesia saat ini mencapai 251,26 juta jiwa atau sekitar 87,15 persen dari total populasi nasional.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Besarnya jumlah muslim di Indonesia menjadi potensi yang besar bagi pengembangan produk UMKM yang menjadi mata rantai pasok kebutuhan haji dan umrah.

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf mendorong pelaku UMKM nasional untuk mengambil bagian lebih besar dalam rantai pasok kebutuhan haji dan umrah tersebut.

Irfan menyebut potensi perputaran ekonomi haji dan umrah Indonesia mencapai sekitar Rp 80 triliun.

Nilai tersebut berasal dari kebutuhan penyelenggaraan haji yang diperkirakan mendekati Rp 20 triliun serta potensi ekonomi umrah sekitar Rp 60 triliun.

Besarnya perputaran ekonomi tersebut harus mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia.

Karena itu, Kemenhaj terus mendorong penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah agar pelaku usaha nasional, khususnya UMKM, dapat memperoleh porsi yang lebih besar dalam rantai pasok.

“Harapan kita, angka itu jangan semuanya hilang. Sebaiknya sebagian bisa kembali kepada masyarakat kita. Karena itu kita membangun ekosistem ekonomi haji dan umrah agar manfaatnya juga dirasakan oleh pelaku usaha Indonesia,” ujar Irfan saat membuka secara resmi Business Matching Expo UMKM dan Ekosistem Haji dan Umrah Tahun 2026 di Stadion Wilis, Kota Madiun, Sabtu (26/9/2026).

Ia menjelaskan, business matching menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok haji dan umrah yang kuat dan mandiri.

Dalam kegiatan di Madiun, sekitar 300 pelaku UMKM Jawa Timur dipertemukan dengan dunia usaha, perbankan, eksportir, dan mitra strategis.

READ  LG Luncurkan Tiga Model Vacuum Cleaner Canggih di Indonesia, Dibuka Opsi Pesanan Awal Mulai 25 Juli 2025

Irfan pun berharap pertemuan ini tidak berhenti pada forum promosi, tetapi berlanjut menjadi kontrak nyata, transaksi bisnis, serta kerja sama berkelanjutan yang berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Irfan juga menilai peluang pasar Arab Saudi terbuka luas bagi produk Indonesia, mulai dari makanan dan minuman, pangan olahan, perlengkapan haji, busana, kerajinan, hingga oleh-oleh.

Namun, pelaku usaha harus mampu memenuhi standar kualitas, harga, regulasi, serta menjaga kontinuitas pasokan.

“Kalau hari ini kita bisa mengekspor, tetapi tahun berikutnya tidak siap, mitra tentu akan memilih pemasok yang kontinuitasnya lebih terjamin. Karena itu kesiapan dan konsistensi harus kita jaga,” jelasnya.

Untuk memperkuat daya saing, Kemenhaj mendorong pembentukan kemitraan dan konsorsium ekspor agar UMKM tidak berjalan sendiri-sendiri.

Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, perbankan, eksportir, dan penyelenggara perjalanan haji dan umrah dinilai penting untuk membuka akses yang lebih luas ke pasar Arab Saudi serta menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia.

Irfan menegaskan bahwa penyelenggaraan haji dan umrah tidak boleh berhenti sebagai kegiatan ritual, tetapi juga harus berkembang menjadi motor penggerak ekonomi nasional.

“Penyelenggaraan haji dan umrah tidak boleh berhenti menjadi sekadar kewajiban ritual, tetapi harus menjadi motor penggerak ekonomi,” pungkasnya. (TUC)