Bisnis

Bangun Ekosistem Peternakan Nasional, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp 17 Triliun

340
×

Bangun Ekosistem Peternakan Nasional, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp 17 Triliun

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI: Sektor budidaya sapi perah seperti yang ada di Pasuruan, Jawa Timur, memegang peranan penting bagi ekosistem peternakan nasional. (NOFIANISA/IB)

INVESTORBISNIS.COM – Ekosistem peternakan adalah tatanan interaksi utuh antara unsur biotik (hewan, manusia, mikroorganisme) dan abiotik (kandang, pakan, lahan) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir guna menciptakan produktivitas pangan yang berkelanjutan

Komponen utama ekosistem peternakan adalah hulu (upstream), budidaya (on-farm), dan hilir (downstream).

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Sektor hulu meliputi pusat penyediaan pakan (seperti jagung) dan fasilitas pembibitan ternak atau DOC (Day Old Chick) terdekat.

Sektor budidaya meliputi proses pemeliharaan hewan ternak, termasuk ayam petelur, ayam pedaging, dan sapi perah.

Sedangkan sektor hilir meliputi industri pengolahan, distribusi pasar, hingga penyerapan produk oleh program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Saat ini pemerintah sedang mempercepat pembangunan ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Hal ini dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan dan menjamin ketersediaan ayam, telur, serta susu bagi kebutuhan nasional.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 17 triliun untuk pengembangan ekosistem peternakan di sejumlah wilayah.

“Lima pabrik pakan, DOC (day old chicken) dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insyaallah lima ini diresmikan tahun depan,” ujar Mentan Amran saat kunjungan kerja di Bone, Sulawesi Selatan, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (26/9/2026).

Diungkap Amran, tahap awal pembangunan mencakup lima kawasan yang berada di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo.

Untuk pembangunan lima kawasan tersebut, pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 2,2 triliun.

Di Sulawesi Selatan, salah satu kawasan pengembangan tersebut berada di Bone dengan luas sekitar 150 hektare.

Amran mengatakan pembangunan di lima wilayah tersebut terus dikebut dan ditargetkan rampung pada tahun depan.

READ  Pesantren Harus Dibekali Ilmu Kewirausahaan dan Keterampilan

Menurutnya, dukungan anggaran dan administrasi telah diselesaikan sehingga pekerjaan di lapangan dapat segera dipercepat.

“Sudah bor-bor. Targetnya tahun depan selesai. Administrasinya sudah selesai, anggarannya juga sudah selesai. Yang penting selesai dulu,” tegasnya.

Kawasan peternakan tersebut dirancang sebagai ekosistem terintegrasi, tidak hanya menghasilkan produk peternakan, tetapi juga membangun rantai pasok mulai dari pakan, pembibitan atau day old chicken [DOC], budidaya ayam, produksi telur, hingga pengembangan sapi perah dan susu.

Integrasi ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat pasokan pangan bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah mendorong agar kebutuhan ayam, telur, dan susu dapat dipenuhi melalui penguatan produksi dalam negeri.

“Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu. Kemudian di sini produksi telur, ayam, susu,” jelas Amran.

Penguatan industri pakan menjadi salah satu bagian penting dalam ekosistem tersebut. Jagung yang merupakan bahan baku utama pakan akan didorong berasal dari sentra produksi di sekitar kawasan peternakan.

“Ayam butuh pakan. Pakannya dari jagung. Jagung ini nanti dari Bone, Soppeng, kabupaten tetangga, dari mana saja. Karena ini yang menjadi pakan nanti,” kata Amran.

Menurutnya, pembangunan pabrik pakan di dekat sentra produksi jagung akan membuat rantai pasok lebih efisien dan menekan biaya logistik.

Jagung tidak perlu dikirim ke luar wilayah untuk diolah menjadi pakan, kemudian dikirim kembali ke sentra peternakan.

Selain pabrik pakan, pemerintah juga membangun fasilitas pembibitan atau DOC untuk memperkuat ketersediaan bibit ayam di dalam negeri.

Dengan adanya fasilitas tersebut, kebutuhan DOC dapat dipenuhi lebih dekat dengan sentra produksi.

Sementara itu, pengembangan sapi perah diarahkan untuk memperkuat produksi susu nasional.

READ  Perkuat Ketahanan Energi Nasional, PHI Lampaui Target Produksi Migas Triwulan I/2026

Menurutnya, peningkatan ketersediaan susu menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak. (HND)