Umum

Ramah bagi Pemula, Pickleball di Surabaya Mulai Diminati

209
×

Ramah bagi Pemula, Pickleball di Surabaya Mulai Diminati

Sebarkan artikel ini
SANTAI: Empat orang memainkan pickleball di Lapangan Zuper Pickle Ball ARH di Superindo Arief Rahman Hakim Lt. 3, Keputih, Surabaya. (NOFIANISA/IB)

INVESTORBISNIS.COM – Pickleball adalah olahraga bola padel (mirip dengan olahraga raket) yang menggabungkan unsur tenis, bulu tangkis, dan tenis meja.

Dua atau empat pemain menggunakan dayung padat yang terbuat dari kayu atau bahan komposit untuk memukul bola polimer berlubang, dengan 26-40 lubang bundar, melewati jaring.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Olahraga ini berasal dari Amerika Serikat, tepatnya di kota Bainbridge Island, Washington. Indonesia menjadi negara ketujuh yang mengenal olahraga pickleball.

Masuk Indonesia tahun 2019, pickleball kini berada di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Pickleball memakai ukuran lapangan yang mirip dengan lapangan bulu tangkis dengan jaring rendah seperti tenis.

Pickleball dapat dimainkan secara tunggal (1 lawan 1) maupun ganda (2 lawan 2).

Banyak yang menyebut jika pickleball mudah dipelajari, mulai oleh anak-anak hingga lansia karena tempo dan gerakannya tidak seberat tenis lapangan.

Di Surabaya, pickleball mulai banyak peminatnya karena ramah bagi pemula. Hal ini setidaknya bisa dilihat dari terus bertambahnya jumlah lapangan pickleball di Kota Pahlawan.

Berdasarkan catatan Investor Bisnis, saat ini setidaknya ada lima langan pickleball di Kota Surabaya.

Lima lapangan itu adalah Zuper Pickle Ball ARH di Superindo Arief Rahman Hakim Lt. 3, Keputih.

Lalu, MUN+ Sport Club di Jl. Tegalsari No.14, Imun Match ITC Sport Center, Homeground Padel Pickle di Jl. Diponegoro No.225, dan Uno Pickle Verwood Jl. Raya Kupang Indah No.37.

General Manager Zuper Pickleball, Johan Saputra, mengatakan pickleball mulai diperkenalkan pihaknya di kawasan Surabaya Timur sejak akhir Juli 2026.

Kehadiran olahraga tersebut mendapat respons positif dari masyarakat yang sebelumnya telah mengenal olahraga raket seperti badminton dan padel.

READ  Semarak Hari Pahlawan, Jiwater Gelar Fun Run Bersama Para Veteran

“Kami sudah sekitar tiga bulan berjalan, mulai akhir Juli mencoba memperkenalkan olahraga pickleball ini. Di luar negeri sebenarnya sudah hype banget, bahkan di Amerika Serikat sudah ada sejak tahun 1960-an. Di negara tetangga seperti Vietnam dan Singapura pun sudah lebih dulu populer,” ujar Johan.

Menurut dia, salah satu faktor yang membuat pickleball cepat diterima adalah kemudahan dalam mempelajari permainan.

Pemain pemula tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami pola dasar permainan sehingga olahraga tersebut dapat langsung dinikmati sejak percobaan pertama.

“Raket dan bolanya ringan, jadi kemungkinan cedera sangat minim. Secara respons sangat bagus, orang-orang yang baru pertama kali mencoba pickleball biasanya dalam 10 menit bermain sudah bisa,” katanya.

Kemudahan tersebut juga membuat pemain dari cabang olahraga lain tertarik mencoba pickleball. Johan menyebut sejumlah pemain badminton maupun mantan pemain padel menjadi bagian dari masyarakat yang mulai penasaran dengan olahraga tersebut.

“Apalagi bagi mereka yang sudah punya dasar bermain badminton atau mantan pemain padel, mereka penasaran, mencoba, dan ternyata langsung cocok,” ujarnya.

Saat ini, mayoritas pemain pickleball yang datang berada pada rentang usia 17 hingga 35 tahun. Kelompok usia tersebut sekaligus menjadi salah satu pasar yang potensial bagi perkembangan olahraga pickleball di Surabaya.

Dari sisi biaya, pickleball juga menawarkan akses yang relatif terjangkau. Raket dapat diperoleh mulai sekitar Rp 400.000, sedangkan bola dijual dengan harga sekitar Rp 20.000.

Adapun biaya sewa lapangan berada di kisaran Rp 100.000 per jam. Dalam masa soft opening, tarif tersebut ditawarkan dengan harga Rp 75.000 per jam.

Perkembangan tersebut turut mendorong munculnya layanan pendukung berupa manajemen pelatih.

Admin Coach Suka, Linggawati, mengatakan meningkatnya minat masyarakat terhadap pickleball menjadi salah satu alasan terbentuknya manajemen tersebut.

READ  Pelindo Terminal Petikemas Selenggarakan Pelatihan Basic Life Support

“Pickleball ini olahraga yang cukup santai karena lapangannya tidak terlalu besar dibandingkan badminton. Rata-rata peminatnya berawal dari para pemain badminton yang mencari alternatif permainan yang lebih ringan dan mudah,” tutur Linggawati.

Menurut dia, karakter permainan yang lebih ramah secara fisik membuat masyarakat memiliki alternatif untuk tetap berolahraga tanpa harus langsung menghadapi intensitas permainan yang tinggi.

“Hal itulah yang melatarbelakangi lahirnya Coach Suka. Karena permainannya lebih ramah fisik, semakin banyak orang yang tertarik untuk bergabung,” katanya.

Melihat perkembangan minat tersebut, Zuper Pickleball tidak hanya mengandalkan satu fasilitas.

Pengelola tengah menyiapkan konsep pusat olahraga terpadu di kawasan Rungkut yang akan menggabungkan lapangan badminton dan pickleball dengan layanan pemulihan berupa massage serta fasilitas fitness.

Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada Desember 2026 hingga Januari 2027.

Rencana ekspansi itu menjadi bagian dari upaya pengelola menangkap pertumbuhan minat masyarakat terhadap olahraga raket yang kini semakin beragam.

Bagi sebagian masyarakat, kemunculan pickleball bukan sekadar bertambahnya pilihan olahraga.

Perkembangan komunitas, kemudahan bermain, serta biaya yang relatif terjangkau menunjukkan bagaimana olahraga raket mulai bergeser dari sekadar aktivitas kompetitif menjadi bagian dari aktivitas rekreasi dan gaya hidup masyarakat perkotaan. (LTS)