BisnisPropertiUmum

Antisipasi Kenaikan Suku Bunga, Pakuwon Group Gandeng 9 Bank Gelar ‘Pesta KPR’ di Surabaya

374
×

Antisipasi Kenaikan Suku Bunga, Pakuwon Group Gandeng 9 Bank Gelar ‘Pesta KPR’ di Surabaya

Sebarkan artikel ini

INVESTORBISNIS.COM – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga, Pakuwon Group justru menunjukkan optimisme tinggi terhadap pasar properti tanah air. Berkolaborasi dengan sembilan bank besar, salah satu pengembang properti raksasa di Indonesia ini resmi menggelar eksibisi bertajuk “Pesta KPR” mulai 25 hingga 28 Juni 2026 di Atrium Tunjungan Plaza 6, Surabaya.

Langkah strategis ini diambil sebagai solusi nyata bagi para konsumen (end-user) yang ingin segera memiliki hunian sebelum terjadinya lonjakan suku bunga acuan serta kenaikan harga bahan bangunan akibat inflasi global.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Direktur Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, mengungkapkan bahwa meski fundamental makroekonomi Indonesia saat ini masih sangat kuat, potensi kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun 2026 tetap perlu diwaspadai karena cepat atau lambat akan memicu kenaikan suku bunga domestik.

“Saat ini BI rate berada di angka 5,75% dengan rata-rata suku bunga KPR pasar mencapai 7% hingga 8%. Namun, di Pesta KPR ini, kami berhasil menggandeng perbankan untuk memberikan subsidi bunga yang sangat signifikan, mulai dari 2,8% hingga 3%,” ujar Sutandi pada pembukaan pameran, Kamis (25/6/2026).

Solusi Cicilan Aman Lewat Skema Bunga Berjenjang
Sutandi menjelaskan, keunggulan utama dari promo dalam eksibisi kali ini adalah penerapan suku bunga berjenjang yang dipatok (fixed). Dengan skema ini, cicilan konsumen selama masa tenor—baik 15 maupun 20 tahun—sudah terprediksi sejak awal masa kredit.

Hal ini otomatis menghindarkan konsumen dari risiko lonjakan suku bunga mengambang (floating rate) yang tidak menentu di masa depan, memberikan keamanan finansial jangka panjang bagi para pembeli.

General Manager Marketing Pakuwon Group, Liliani Harsono, menambahkan bahwa agresivitas perbankan dalam menyalurkan kredit saat ini menjadi keuntungan besar bagi masyarakat. Terlebih, berbeda dengan pengembang lain, Pakuwon konsisten menghadirkan produk properti yang sudah berstatus ready stock atau siap huni.

READ  Menkeu Heran Tarif Cukai Rokok Tinggi, Fokus Berantas Rokok Ilegal.

Unit ‘Ready Stock’ Terbatas: Properti Jadi Safe Haven
Meskipun permintaan pasar tinggi dan tren penjualan properti residensial tumbuh sebesar 7,83 persen disertai penguatan segmen premium di Surabaya, manajemen menegaskan bahwa pasokan unit siap huni yang tersedia saat ini cukup terbatas.

Berikut adalah rincian unit ready stock yang ditawarkan selama pameran:

1. Kawasan Surabaya Barat: Tersedia sekitar 99 unit rumah siap huni (Grand Pakuwon) dengan harga mulai Rp1,7 Miliar. Sementara untuk hunian vertikal, terdapat Menara Lancaster (sisa ~100 unit) dan Menara Clayson (sisa ~300 unit) dengan harga mulai Rp800 jutaan untuk tipe studio.

2. Kawasan Surabaya Timur: Tersedia sekitar 60 unit rumah siap huni (Pakuwon City) dan sisa 150 unit apartemen dengan harga mulai Rp600 jutaan.

“Target minimal kami di setiap eksibisi adalah 200 unit terjual. Dengan dukungan penuh dari 9 bank mitra, kami optimistis realisasinya bisa lebih dari itu,” kata Liliani Harsono.

Sebagai informasi, skema pembiayaan KPR saat ini mendominasi penjualan properti di Pakuwon Group sebesar 65%, di mana 80% dari konsumen KPR tersebut memilih skema bunga berjenjang. Sisa 35% konsumen lainnya memilih metode pembayaran tunai (cash) keras maupun bertahap.

Sinyal Kenaikan Harga Properti Baru di Semester II-2026
Mengenai strategi di sisa tahun 2026, Sutandi Purnomosidi mengonfirmasi bahwa target penjualan semester ini masih berada di jalur yang tepat (on track). Kendati demikian, ia memberikan sinyal kuat bahwa harga properti baru pada semester dua kemungkinan besar akan mengalami penyesuaian akibat meningkatnya biaya konstruksi (cost).

“Kami masih menahan harga lama untuk unit-unit yang dibangun sebelumnya. Namun, untuk klaster atau menara baru yang akan kami luncurkan dalam waktu dekat, kenaikan harga itu tinggal menunggu waktu. Bahkan ada kemungkinan penyesuaian harganya menyentuh angka double digit mengikuti kondisi pasar dunia,” pungkas Sutandi. (NXQ)

Dukung Swasembada Energi, Profesor ITS Ciptakan PV-Wind Turbin CERDAS: Prof. Dr. Ir. Imam Abadi, ST., MT., IPM menjelaskan kebaruan konsep PV-Wind Turbin rancangannya. (IST) Ketergantungan global terhadap bahan bakar minyak (BBM) yang kian menipis, menuntut adanya langkah nyata dalam menciptakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Menjawab tantangan besar tersebut, Guru Besar Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Imam Abadi, ST., MT., IPM menggagas sebuah sistem pembangkit listrik hybrid cerdas yang menggabungkan tenaga surya dan angin. Langkah strategis ini lahir dari keprihatinan terhadap krisis energi fosil global serta keterbatasan akses listrik yang masih membayangi kawasan terpencil di Indonesia. Guna mengatasi ketimpangan tersebut, potensi melimpah Indonesia sebagai negara tropis yang disinari matahari sepanjang tahun dan memiliki embusan angin harian mulai dilirik sebagai solusi mandiri. “Indonesia kaya akan ladang angin dan sinar matahari yang konsisten sepanjang tahun, sehingga kombinasi kedua potensi alami inilah yang kami pilih sebagai penyokong utama sistem energi terbarukan ini,” ujar Imam menerangkan alasan pemilihan komoditas alatnya. Sistem ini menerapkan prinsip kerja berbasis komplementaritas energi untuk menjaga kontinuitas dan stabilitas pasokan daya listrik harian. Karakteristik kedua sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) ini dirancang saling mengisi secara bergantian, dimana pada siang hari komponen panel surya akan bekerja optimal memanen menyerap energi sinar matahari. Memasuki waktu malam, teknologi turbin angin mengambil alih peran sebagai generator utama guna memastikan produksi listrik tetap berjalan secara simultan. Keunikan dari turbin angin vertikal berbentuk spiral yang dipilih adalah kemampuannya untuk tetap berputar menghasilkan listrik meski hanya ditiup angin sepoi-sepoi. Model helix savonius ini sengaja dipilih karena memiliki batas kecepatan awal putar yang sangat rendah, sehingga cocok dengan iklim tiupan angin nasional. “Kelebihan turbin jenis ini adalah sistem cut in speed-nya yang rendah, sehingga hanya dengan kecepatan angin 2,5 meter per sekon saja generator sudah bisa berputar dan stabil menghasilkan tegangan listrik harian,” jelas lelaki kelahiran Lamongan itu. Menariknya, keunggulan utama dari teknologi ini terletak pada keberadaan sistem penjejak matahari cerdas (solar tracker) yang membuat panel surya bergerak otomatis mengikuti matahari. Berbeda dengan panel surya umumnya, inovasi ini bisa bergeser secara halus mengikuti pergerakan matahari sehingga energi matahari yang diserap oleh sistem akan selalu berada di tingkat paling maksimal. Menurut mantan Direktur Kemahasiswaan ITS tersebut, sistem ini juga dibekali kemampuan luar biasa untuk mendeteksi perubahan cuaca secara otomatis. “Ketika langit mendadak mendung atau tertutup awan tebal, alat ini akan langsung mengalihkan mode deteksinya menggunakan jalur perhitungan astronomi,” papar Guru Besar ke-257 ITS ini. Melalui peralihan otomatis berbasis kecerdasan buatan, panel akan tetap pintar meraba dan bergerak ke arah trajektori matahari. Hal ini membuat proses pemanenan energi surya tetap berjalan ideal walaupun cuaca di lokasi sedang tidak menentu. “Ketika kondisi mendung, kendali cerdas akan secara otomatis mengalihkan sistem ke soft sensor berbasis perhitungan astronomi agar panel surya tetap bergerak pada posisi ideal,” tambah dosen Laboratorium Pengukuran, Keandalan, Risiko, dan Keselamatan Departemen Teknik Fisika ITS tersebut. Melalui serangkaian pengujian di lapangan, sistem cerdas ini sukses membuktikan ketangguhannya dengan mendongkrak efisiensi listrik hingga 25,12 persen dibandingkan panel surya konvensional. Inovasi ini kian menegaskan komitmen ITS dalam menyokong target Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Imam juga mengungkapkan impian besarnya untuk menyulap teknologi ini menjadi semacam stasiun pengisian daya mandiri berbasis energi terbarukan gratis di masa depan. Fasilitas tersebut nantinya dapat diakses secara bebas oleh masyarakat luas untuk mengisi daya baterai kendaraan listrik maupun menyokong operasional alat pertanian harian. “Bagi seorang peneliti, kebahagiaan tertinggi adalah ketika melihat hasil karya teknologi yang dikembangkan dapat dirasakan manfaatnya seluas-luasnya oleh masyarakat,” pungkasnya. Swasembada Energi, Profesor ITS, PV-Wind Turbin, Imam Abadi, Guru Besar Departemen Fisika, Turbin Tenaga Surya, Pembangkit Listrik Hybrid, Ramah Lingkungan, Energi Fosil, Kawasan Terpencil , Sumber Energi Baru Terbarukan, Panel Surya, Gubes ITS ke-257
Umum

INVESTORBISNIS.COM – CERDAS: Prof. Dr. Ir. Imam Abadi,…