INVESTORBISNIS.COM – Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong produk lokal karya perempuan Indonesia memperluas pasar hingga menembus pasar global.
Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, terutama melalui kontribusinya sebagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Ketika kita memberdayakan seorang perempuan, sesungguhnya kita juga memberdayakan satu generasi. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan tidak hanya penting dari sisi sosial, tetapi juga menjadi faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Roro dikutip Kamis (25/6/2026).
Roro menjelaskan bahwa lebih dari 60 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan.
Sementara itu, UMKM berkontribusi sekitar 60,51 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, menyerap 96,92 persen tenaga kerja, serta berkontribusi sebesar 15,65 persen terhadap pertumbuhan ekspor Indonesia.
Berbagai produk yang dihasilkan perempuan Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar internasional.
Selain bernilai ekonomi, produk-produk tersebut juga mengandung unsur kearifan lokal, keberlanjutan, dan identitas budaya Indonesia yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pasar global.
“Sering kali kita melihat produk-produk karya perempuan Indonesia tampil membanggakan di berbagai pameran internasional. Potensi ini harus terus didorong agar produk-produk tersebut tidak hanya dikenal dunia, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi para pelaku usahanya,” kata Roro.
Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian Perdagangan memiliki program ‘Dari Lokal untuk Global’ yang bertujuan memperluas akses pasar bagi produk-produk Indonesia.
Melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri yang terdiri atas Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), Kemendag secara aktif mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli potensial di berbagai negara melalui penjajakan kesepakatan bisnis (business matching).
Tidak hanya itu, pemerintah terus memperluas akses pasar melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional dengan negara-negara mitra.
Langkah tersebut dilakukan untuk menciptakan peluang yang lebih besar bagi produk-produk Indonesia, termasuk produk UMKM yang dikelola perempuan agar dapat bersaing dan berkembang di pasar internasional.
Roro juga menekankan pentingnya ekonomi restoratif sebagai pendekatan pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian lingkungan.
Menurutnya, berbagai produk berbasis keberlanjutan dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab kini makin diminati pasar dunia.
Oleh karena itu, pelaku usaha Indonesia perlu terus meningkatkan kualitas produk serta memenuhi standar internasional yang makin menitikberatkan aspek keberlanjutan dalam rantai pasok.
Roro juga menyampaikan bahwa Kemendag memiliki program ‘Desa Bisa Ekspor’ untuk mendorong potensi ekspor dari daerah.
Hingga saat ini, Kemendag bersama mitra strategis telah memetakan 2.616 desa, dengan 787 desa di antaranya telah dikategorikan sebagai desa siap ekspor.
Program tersebut diharapkan dapat membuka peluang yang lebih luas bagi komunitas dan pelaku usaha di daerah, termasuk perempuan yang menjadi penggerak ekonomi lokal.
“Ketika perempuan diberikan kesempatan untuk berkembang dan memperoleh akses pasar yang lebih luas, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga, komunitas, dan generasi berikutnya. Oleh karena itu, kolaborasi seluruh pihak menjadi sangat penting untuk memperkuat ekosistem pemberdayaan perempuan dan pengembangan produk lokal Indonesia,” pungkas Roro. (awa)













