Keuangan

Tumbuh 19,1 Persen, Pendapatan Negara Tembus Rp 1.185 Triliun

1
×

Tumbuh 19,1 Persen, Pendapatan Negara Tembus Rp 1.185 Triliun

Sebarkan artikel ini
POSITIF: Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa saat menjelaskan mengenai kondisi APBN hingga akhir Mei 2026. (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Pemerintah percaya diri kinerja perekonomian nasional menunjukkan tren yang semakin positif di tengah meredanya tekanan dinamika global.

Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Purbaya menjelaskan berbagai indikator global menunjukkan tingkat volatilitas yang mulai menurun, sementara aktivitas ekonomi domestik terus menguat.

Salah satu indikator yang mencerminkan perbaikan tersebut adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali memasuki zona ekspansi pada Mei 2026.

Perbaikan aktivitas ekonomi juga tercermin dari kuatnya permintaan domestik.

Indeks belanja masyarakat, penjualan kendaraan bermotor, hingga konsumsi semen menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Menurut Purbaya, data-data tersebut mengonfirmasi bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi terus bergerak positif.

“Ini menunjukkan domestic demand yang kuat dan juga menggambarkan daya beli masyarakat yang masih kuat,” jelasnya.

Lebih lanjut, surplus neraca perdagangan Indonesia berlanjut selama 72 bulan berturut-turut.

Arus modal asing juga kembali mencatatkan inflow pada triwulan II/2026, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi nasional.

“Inflasi hingga Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen (year-on-year), masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia,” lanjutnya.

Dari sisi fiskal, Purbaya menyebut realisasi APBN hingga akhir Mei 2026 menunjukkan kinerja yang solid.

Pendapatan negara mencapai Rp 1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penerimaan perpajakan yang meningkat 22,1 persen serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang tumbuh 19,9 persen.

“Yang paling menarik adalah pendapatan pajak naik 22,1 persen. Jadi ada perbaikan yang signifikan di pajak dibandingkan dengan kondisi tahun lalu,” ujar Purbaya.

READ  Pemerintah Kejar Target Cukai 2026, Ini Dua Kunci Utamanya

Sementara itu, belanja negara sudah terealisasi sebesar Rp 1.365,4 triliun atau tumbuh 34,4 persen secara tahunan.

Belanja tersebut diarahkan untuk mendukung program prioritas pemerintah, menjaga daya beli masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas layanan publik, serta mempercepat aktivitas ekonomi nasional.

“Strategi percepatan belanja negara dilakukan agar dampak APBN terhadap perekonomian dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun,” ungkapnya.

Dengan realisasi tersebut, defisit APBN hingga akhir Mei 2026 tercatat sebesar 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), masih jauh di bawah batas yang ditetapkan undang-undang.

Di saat yang sama, keseimbangan primer kembali mencatatkan surplus sebesar Rp 58,6 triliun, mencerminkan pengelolaan fiskal yang semakin sehat dan berkelanjutan.

“Surplus keseimbangan primer sekarang Rp 58,6 triliun, sudah positif lagi. Artinya anggaran kita sekarang lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya,” ungkap Purbaya.

Menkeu menegaskan bahwa pemerintah akan terus menjaga APBN terus optimal berperan sebagai shock absorber dan penggerak perekonomian.

“Ke depan, pemerintah akan terus menjaga APBN tetap sehat, prudent, adaptif, dan kredibel guna memperkuat stabilitas, menjaga momentum pertumbuhan, serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan,” pungkasnya. (awa)