INVESTORBISNIS.COM – Dua brand besar di industri kuliner nasional berkolaborasi memboyong menu khas warga lokal (warlok) Surabaya keliling Indonesia.
Dua brand besar itu adalah The People’s Cafe (Ismaya Group) dan Bu Rudy.
The People’s Cafe sejak awal dikenal sebagai brand yang dekat dengan keseharian karena menghadirkan berbagai makanan dan jajanan lokal yang terasa familiar, dengan pendekatan yang lebih ringan dan mudah dinikmati.
Sementara Bu Rudy adalah ikon kuliner legendaris asal Surabaya yang terkenal dengan sambal cita rasa pedas “nampol” dan telah menjadi oleh-oleh wajib dari Kota Pahlawan sejak tahun 1995.
Kolaborasi keduanya menghadirkan tiga menu spesial sebagai bagian dari inisiatif ini yang tersedia di 63 gerai The People’s Café.
Tiga menu warlok Surabaya yang dipilih itu adalah Nasi Lidah Komplit, Nasi Cumi Hitam, dan Nasi Sate Kelapa.
President Director Ismaya Group, Cendrayani mengatakan, tidak semua hal baru harus terasa asing.
Kadang, yang justru paling terasa adalah sesuatu yang sudah dikenal, namun dihadirkan dengan cara yang berbeda.
“Ide inilah yang menjadi titik temu antara The People’s Cafe dan Bu Rudy dalam kolaborasi yang kita hadirkan mulai 5 Mei 2026 ini,” kata Cendrayani saat mengenalkan kolaborasi ini di The People’s Café Pakuwon Mall Surabaya, Jumat (8/5/2026).
Marketing Manager The People’s Café, Nuranti Dwiyana Putri menjelaskan, sejak awal mereka dikenal sebagai brand yang dekat dengan keseharian.
The People’s Cafe menghadirkan berbagai makanan dan jajanan lokal yang terasa familiar, dengan pendekatan yang lebih ringan dan mudah dinikmati.
“Seiring waktu, pendekatan ini terus berkembang, mengikuti bagaimana masyarakat, khususnya generasi muda, menikmati makanan hari ini: tetap mencari rasa yang dekat, namun dalam pengalaman yang lebih kasual dan relevan,” ungkapnya.
Di sisi lain, lanjut Ranty, Bu Rudy membawa perjalanan yang berbeda.
Berawal dari usaha rumahan di Surabaya, brand ini tumbuh menjadi salah satu nama yang dikenal luas.
Tidak hanya karena rasa, tetapi juga karena konsistensi dan hubungan yang terbangun dengan pelanggannya.
“Kedua pendekatan ini—yang satu dekat dengan keseharian hari ini, yang satu lagi berakar dari perjalanan panjang—akhirnya bertemu dalam satu kolaborasi,” sambungnya.
Diakui Ranti, pengembangan kolaborasi ini dilakukan melalui proses yang cukup detail, untuk memastikan setiap elemen tetap terasa seimbang—tidak saling mengalahkan, tetapi justru saling melengkapi dalam satu pengalaman makan yang utuh.
“Menu kolaborasi ini juga dapat dinikmati di seluruh gerai The People’s Cafe, yang saat ini telah hadir di 63 lokasi di berbagai kota di Indonesia,” lanjutnya.
Nasi Lidah Komplit hadir dengan potongan lidah sapi berbumbu yang empuk, dipadukan dengan serundeng gurih yang memberikan tekstur dan aroma khas.
Serta dilengkapi dengan oseng soun, lalapan, udang krispi, dan sambal bawang Bu Rudy yang dikenal dengan pedasnya.
Menu ini menyuguhkan kombinasi rasa yang kaya namun tetap terasa familiar.
Sementara itu, Nasi Cumi Hitam menawarkan karakter rasa yang lebih bold.
Ada cumi hitam khas Madura yang dimasak dalam bumbu hitam pekat dan kaya, serta dilengkapi oseng soun, udang crispy dam tentunya sambal bawang bu Rudy.
Menghadirkan kedalaman rasa yang kuat namun tetap seimbang saat dinikmati bersama nasi hangat.
Untuk pilihan lainnya, Nasi Sate Kelapa menghadirkan sate ayam dengan balutan kepala parut berbumbu yang khas.
Dipadukan dengan bumbu kacang yang gurih serta dilengkapi dengan acar dan sambal bawang Bu Rudy.
Tersedia dalam pilihan ala carte maupun komplit dengan nasi, memberikan sentuhan gurih dan sedikit manis yang membuatnya terasa berbeda namun tetap dekat di lidah.
Ranti menjelaskan, konsumen saat ini juga semakin eksploratif.
Konsumen tidak hanya mencari rasa yang enak, tetapi juga cerita di balik sebuah hidangan—mulai dari asal-usul hingga karakter yang dibawanya.
“Eksplorasi konsumen ini membuat makanan lokal semakin relevan, terutama ketika dihadirkan dengan pendekatan yang lebih modern dan accessible,” ujarnya.
Cendrayani menambahkan, bagi Ismaya Group, yang menarik dari kolaborasi ini adalah bagaimana sesuatu yang sudah dikenal bisa dihadirkan kembali dengan cara yang terasa lebih dekat dengan keseharian sekarang.
“Tidak mengubah esensinya, tapi menyesuaikan bagaimana orang menikmatinya hari ini,” ingatnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini menjadi bagian dari cara The People’s Cafe melihat perkembangan selera masyarakat.
Terutama generasi muda yang kini semakin terbuka untuk menikmati makanan lokal dengan cara yang lebih kasual dan relevan dengan gaya hidup mereka.
Menurutnya, rasa yang familiar tetap memiliki tempat yang kuat, namun cara penyajiannya perlu terus berkembang agar tetap terasa dekat dan mudah dinikmati dalam berbagai momen.
“Bagi The People’s Cafe, comfort food tidak hanya tentang rasa yang sederhana dan familiar, tetapi juga tentang koneksi emosional—makanan yang mengingatkan pada momen, kebiasaan, dan pengalaman yang dekat dengan keseharian,” jelasnya.
Kolaborasi ini juga membuka ruang bagi Bu Rudy untuk hadir dalam format yang lebih luas.
Tidak hanya dikenal sebagai oleh-oleh khas Surabaya, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman makan di berbagai kota.
Meski Bu Rudy telah lama menghadirkan hidangan di Surabaya, kolaborasi ini menjadi cara untuk membawa cita rasa yang sudah dikenal tersebut ke audience yang lebih luas, melalui pendekatan yang lebih accessible.
Dengan tetap menjaga konsistensi dari sisi rasa dan kualitas, kolaborasi ini memungkinkan lebih banyak orang untuk menikmati karakter khas Bu Rudy dalam konteks yang berbeda, tanpa kehilangan identitas yang sudah dibangun selama ini.
“Bagi kami, yang terpenting adalah bagaimana rasa yang sudah dikenal bisa tetap dinikmati dengan cara yang konsisten, di mana pun orang mencobanya. Kolaborasi ini menjadi kesempatan untuk membawa cita rasa khas yang sudah kami jaga selama ini ke lebih banyak orang, tanpa mengubah apa yang menjadi karakter utamanya,” ungkap Lanny Siswadi, pemilik Bu Rudy. (AWA)













