INVESTORBISNIS.COM – Komunitas hobi saat ini diakui sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi yang signifikan di Indonesia.
Terutama karena kemampuannya menghidupkan ekosistem UMKM dan menciptakan nilai ekonomi yang besar dari aktivitas berskala lokal maupun nasional.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mendorong pertumbuhan ekonomi melalui efek berganda dari aktivitas komunitas hobi.
Menurutnya, segmen komunitas hobi yang niche menyimpan potensi ekonomi yang besar karena bisa menghasilkan cuan melimpah kalua sukses mengelolanya.
Tumbuh dan semakin giatnya aktivitas hobi akan bermanfaat dalam menciptakan nilai ekonomi, termasuk untuk UMKM.
“Kalau lomba burung berkicau semakin ramai, peternak burung akan semakin banyak. Begitu juga pembuat sangkar, pabrik pakan, peternak jangkrik sebagai makanan burung, hingga penjual burung akan semakin banyak. Kami mendorong peningkatan nilai ekonomi dari berbagai komunitas hobi, salah satunya komunitas burung kicau,” kata menteri yang akrab disapa Busan saat membuka “Festival Lomba Burung Berkicau dan Kuliner UMKM”, Minggu (3/5/2026) di lapangan parkir kantor Kementerian Perdagangan.
Busan juga menekankan, burung-burung kicau yang dilombakan merupakan burung hasil ternak.
Melalui lomba tersebut, Busan mengajak masyarakat untuk menunjukkan semangat melestarikan lingkungan.
“(Burung) yang dilombakan bukan burung liar, tapi burung ternak,” ujar Busan.
Nilai ekonomi dari perdagangan burung hias dan ekosistem di dalamnya dapat terus didorong.
Di dalam negeri, perputaran ekonomi dari ekosistem burung kicau per tahunnya bisa mencapai Rp 1,7 triliun hingga Rp 2 triliun.
Penggerak ekonomi dalam ekosistem tersebut mencakup, antara lain, penangkaran, produsen pakan, suplemen, aksesori, jasa pelatihan, jasa perawatan, hingga aktivitas komunitas-komunitas yang ada.
Sementara itu, ekspor burung hias pada 2025 mencapai sekitar Rp 12,5 miliar.
Ada peningkatan sekitar 237,5 persen dibanding 2024. Hal ini menunjukkan berkembangnya permintaan burung hias asal Indonesia.
Selain membuka lomba, Busan juga mengunjungi tenda-tenda UMKM. Sejumlah UMKM kuliner menghadirkan aneka makanan, termasuk hidangan khas daerah dan berbagai minuman dingin.
Sementara itu, tersedia beragam produk pendukung bagi para pencinta burung seperti kandang dan pakan berkualitas.
Ketua Umum Pelestari Burung Indonesia (PBI) Pusat, Bagiya Rahmadi menyampaikan, aktivitas komunitas burung kicau umumnya tidak terbatas pada jual beli burung dan kompetisi.
Sebagai contoh, PBI juga bergerak di bidang pelestarian dengan membina penangkar burung.
Kemudian, perlombaan dapat memperkenalkan produk-produk hasil penangkaran dan mendorong dampak berganda.
“Lomba burung bisa mengenalkan hasil produk dan dampaknya multiefek,” ungkap Bagiya. (ATI)














