HeadlineKeuangan

Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak USD 3 Miliar, Ini Penyebabnya

356
×

Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak USD 3 Miliar, Ini Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI: Laporan utang luar negeri (ULN) Indonesia per Februari 2026. (BI)

INVESTORBISNIS.COM – Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar USD 437,9 miliar.

Ada kanaikan sebesar USD 3 miliar dibandingkan dengan posisi ULN pada bulan sebelumnya sebesar USD 434,9 miliar.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Anton pitono menjelaskan, secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5 persen (yoy).

“Lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,7 persen (yoy),” kata Anton dalam keterangan resminya, Rabu (15/4/2026).

Ia menjelaskan, peningkatan posisi ULN tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik, khususnya bank sentral, seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). “Sementara itu, posisi ULN swasta mengalami penurunan,” sambungnya.

Dari ULN publik, posisi ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar USD 215,9 miliar atau secara tahunan tumbuh sebesar 5,5 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 5,6 persen (yoy).

“Perkembangan posisi ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang,” ujarnya.

Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0 persen dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,3 persen); Jasa Pendidikan (16,2 persen); Konstruksi (11,6 persen); serta Transportasi dan Pergudangan (8,5 persen).

“Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98 persen dari total ULN pemerintah,” ungkap Anton.

Sementara peningkatan ULN Bank Indonesia didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh bank sentral, sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global.

READ  Rupiah Terus Tertekan, Ditutup Melemah ke Rp16.955 per Dolar AS

Anton menjelaskan, posisi ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar USD 193,7 miliar, atau secara tahunan tercatat turun 0,7 persen (yoy).

Perkembangan ULN swasta tersebut dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang masing-masing turun 2,8 persen (yoy) dan 0,2 persen (yoy).

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,3 persen terhadap total ULN swasta.

ULN swasta didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0 persen terhadap total ULN swasta.

Anton menambahkan, struktur ULN Indonesia sehat. Hal itu didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 29,8 persen, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 84,9 persen dari total ULN.

Dalam rangka menjaga agar struktur ULN sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN.

“Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” pungkas Anton. (JBN)