INVESTORBISNIS.COM – Hasil asesmen Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menunjukkan bahwa stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan III/2026 tetap terjaga, didukung oleh koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antarotoritas.
Perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan, tecermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap solid dan intermediasi keuangan yang terjaga.
Namun demikian, tekanan kembali meningkat memasuki Oktober 2026 seiring eskalasi konflik geopolitik yang mendorong naiknya harga energi global dan kebijakan moneter global yang cenderung ketat.
Serta kondisi domestik yang ditandai mengetatnya likuiditas, pengumuman MSCI terkait kondisi pasar saham dan meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar sejalan meningkatnya arus modal keluar dari pasar saham.
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan, di tengah tekanan tersebut, fundamental ekonomi nasional dan respons kebijakan yang adaptif mampu menjaga stabilitas sistem keuangan (SSK).
“KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan, serta memperkuat kerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dampak rambatan risiko global,” kata Suahasil dikutip Rabu (4/11/2026).
Ia menjelaskan, prospek perekonomian global masih tertekan seiring dengan eskalasi konflik geopolitik.
Masih kuatnya tensi perang di Timur Tengah mendorong tetap tingginya harga minyak dan berbagai komoditas dunia.
“Kebijakan moneter global mengetat dengan sejumlah bank sentral utama, seperti The Fed, European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ) telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 bps pada September, serta diprakirakan berlanjut untuk jangka waktu yang lebih lama (higher for longer),” lanjutnya.
Selain itu, imbal hasil (yield) US Treasury tetap tinggi sejalan dengan menguatnya ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter ke depan dan defisit anggaran pemerintah AS yang besar.
Di pasar keuangan global, preferensi investor terhadap aset portofolio di negara berkembang masih terbatas dan menyebabkan tetap kuatnya indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang.
“Kondisi tersebut berpotensi menahan aliran modal ke emerging markets termasuk Indonesia, dan perkembangan ini akan terus dimitigasi dampaknya,” ujarnya.
IMF dalam World Economic Outlook Oktober 2026 memproyeksikan ekonomi global tumbuh sebesar 3,1 persen di tahun 2026, melambat dibandingkan tahun 2025, dengan inflasi global meningkat menjadi 4,7 persen.
Suahasil menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III/2026 diprakirakan tetap kuat di tengah tekanan global.
“Pertumbuhan tetap ditopang oleh permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif,” tegasnya.
Konsumsi rumah tangga didorong oleh berlanjutnya berbagai stimulus fiskal pemerintah.
APBN terus berperan sebagai shock absorber melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial (perlinsos), stabilisasi harga pangan, dan penciptaan lapangan kerja.
Investasi diprakirakan tumbuh kuat seiring dengan proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah.
Sementara itu, konsumsi pemerintah didukung oleh percepatan belanja dan penyaluran bantuan sosial.
“Dari sisi eksternal, kinerja ekspor nonmigas meningkat dan semakin didorong untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga dan permintaan komoditas ekspor. Selain itu, pemerintah turut menjaga ketahanan eksternal melalui kebijakan konversi hasil ekspor (DHE),” jelas Suahasil.
Kinerja positif perekonomian juga didukung oleh beberapa indikator ekonomi, antara lain penjualan mobil dan motor yang tumbuh tinggi masing-masing 28,1 persen yoy dan 15,4 persen yoy di bulan September 2026.
Selanjutnya, PMI Manufaktur juga melanjutkan ekspansi ke level 54,0 di bulan Oktober 2026.
“Dengan perkembangan tersebut, ekonomi Indonesia tahun 2026 diprakirakan tumbuh di atas 5,4 persen yoy,” pungkasnya. (EWA)













