INVESTORBISNIS.COM – Di tengah ketidakpastian kondisi perekonomian global maupun domestik, PT Multi Spunindo Jaya Tbk (MSJA) mencatat kenaikan penjualan selama Januari hingga September 2026.
Corporate Secretary PT Multi Spunindo Jaya Tbk, Kent Handi Kurniawan mengatakan, pertumbuhan penjualan di kuartal III/2026 mendekati angka 18 persen bila dibandingkan dengan hasil penjualan pada periode yang sama tahun lalu (Januari-September 2025).
“Namun karena ada kondisi ekonomi makro yang kurang baik maka laba bersih di tahun berjalan di kuartal III/2026 tidak sebesar di kuartal III/2025,” ungkap Kent, Selasa (3/11/2026).
Kondisi makro yang kurang baik tersebut, menurut Kent, berkaitan dengan kurs dollar Amerika Serikat terhadap rupiah.
Seperti diketahui dalam beberapa bulan ke belakang, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat terus tertekan hingga saat ini sudah menembus Rp 18 ribu per USD.
Dalam laporan keuangan MSJA yang sudah dipublikasikan di website BEI (Bursa Efek Indonesia), perusahaan kain nonwofen (bukan tenun) berbasis di Sidoarjo itu mencatat penjualan bersih sebesar USD 55,98 juta.
Angka tersebut naik cukup signifikan dibandingkan penjualan pada periode yang sama di 2025 (Januari-September 2025) yang angkanya masih di kisaran USD 47,45 juta
Sementara itu, dalam periode yang sama laba bersih tahun berjalan yang berhasil dicatat MSJA sebesar USD 3,33 juta.
Jumlah itu mengalami kontraksi cukup singifikan bila dibandingkan capaian pada Januari-Sepember 2025 yang masih di angka USD 3,53 juta. Ada kontraksi sekitar USD 500 ribu.
Lebih jauh Kent menjelaskan, MSJA memproduksi lembaran nonwoven (sheet) berkualitas tinggi untuk kebutuhan industrial (teknis) maupun higienis (perawatan diri dan medis).
Sistem penjualan produk MSJA tidak menyasar pasar retail (eceran/kiloan), melainkan menyuplai langsung pabrikan skala besar sebagai bahan baku produk jadi.
“Baik kelompok kebutuhan industrial maupun higienis, hingga September 2026 ini sama-sama mencatat kenaikan penjualan. Ini berarti kepercayaan customer kepada kami semakin meningkat,” ujarnya.
Kent mengungkapkan, penyerapan pasar produk-produk MSJA masih didomonasi market domestik dengan kontribusi 75 persen.
Sedangkan pasar ekspor memberikan kontribusi 24,7 persen. “Sisanya adalah penjualan yang dilakukan MSJA secara langsung ke relasi-relasi,” sambungnya.
Untuk segmen industri, lanjut Kent, produk MSJA diekspor ke Jepang, Australia, Tiongkok, Malaysia, New Zealand dan Amerika Serikat.
“Yang menggembirakan, tahun ini produk kita mulai masuk ke Polandia. Tentu saja ini capaian yang patut disyukuri karena menunjukkan bahwa produk Indonesia semakin diterima di pasar internasional,” ungkapnya.
Kent mengatakan, pertumbuhan penjualan segmen industri untuk pasar ekspor, salah satunya dipicu karena permintaan dari Negeri Paman Sam yang mengalami kenaikan cukup signfikan.
“Sementara di pasar lokal, kenaikan penjualan karena kita ada aplikasi baru yang mendongkrak permintaan customer,” ujarnya.
Selain dari pasar Amerika Serikat, Kent menyebut jika market Tiongkok, New Zealand juga menambah jumlah order produk-produk MSJA.
“Dari sisi permintaan secara industri, MSJA tahun ini dapat customer baru dari perusahaan multinasional besar asal Swedia yang punya cabang di Malaysia. Perusahaan tersebut jatuh hati kepada kami dan kalau cocok, mereka berjanji akan merokemendasikan penggunaan produk-produk MSJA di seluruh cabang (negara, Red) mereka,” ujarnya.
Kent menambahkan, untuk produk kategori higienis, pertumbuhan dipicu kenaikan jumlah order, baik untuk pasar lokal maupun ekspor.
“Customer dari Thailand, Irlandia, Malaysia, Jepang maupun Vietnam menambah belanja mereka sehingga eskpor MSJA untuk segmen higienis juga bertumbuh,” pungkasnya. (QFJ)













