Headline

Kolaborasi Global Sebagai Fondasi Ketahanan Ekonomi Keuangan Syariah Nasional

325
×

Kolaborasi Global Sebagai Fondasi Ketahanan Ekonomi Keuangan Syariah Nasional

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI. (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Indonesia memperkuat kolaborasi global untuk membangun ketahanan keuangan syariah sekaligus memperbesar kontribusinya terhadap perekonomian riil.

Upaya ini dilakukan melalui penguatan pasar keuangan syariah di dalam negeri yang didukung kerja sama lintas negara untuk mengantisipasi risiko keuangan yang semakin kompleks dan saling terhubung.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Sejalan dengan itu, Bank Indonesia (BI) bersinergi dengan mitra strategis untuk terus memperdalam pasar uang dan pasar modal syariah, memperluas akses pembiayaan produktif bagi pelaku usaha UMKM, serta memperkuat rantai nilai halal.

“Melalui penguatan pasar domestik dan kolaborasi global, keuangan syariah diharapkan semakin tangguh dalam menghadapi risiko sekaligus mampu memperluas peluang usaha, mendorong penciptaan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Deputi Gubernur BI, Solikin M. Juhro, pada pembukaan seminar internasional kolaborasi Bank Indonesia, IFSB, dan IILM bertema “Dibalik Pertumbuhan: Risiko Terkini, Stabilitas Keuangan, dan Masa Depan Keuangan Syariah” yang digelar di Jakarta, Senin (19/10/2026).

Perkembangan keuangan syariah Indonesia menunjukkan potensi yang besar, dengan total aset mencapai Rp 3.264 triliun pada Juni 2026 atau tumbuh hampir 10 persen secara tahunan.

Meski demikian, pangsa pasar perbankan syariah masih sekitar 7 persen, menunjukkan ruang untuk penguatan peran keuangan syariah dalam mendukung kegiatan ekonomi produktif.

“Kita memiliki peluang untuk membangun regulasi yang kuat, tata kelola syariah, dan infrastruktur pasar sejak awal. Di sisi lain, negara dengan pasar syariah yang telah maju juga dapat berbagi pengalaman sekaligus terbuka terhadap gagasan baru,” ujar Solikin.

Ia juga menekankan pentingnya ketersediaan likuiditas bagi stabilitas keuangan syariah, terutama saat pasar tertekan.

Untuk itu, diperlukan pendalaman pasar sekunder sukuk, mekanisme pembentukan harga yang kredibel, pengaturan repo syariah, serta fasilitas likuiditas darurat yang sesuai dengan prinsip syariah.

READ  Listrik di Sumatra Berangsur Normal, PLN Pastikan Pemulihan Sistem Terus Berjalan

Dalam hal ini, Bank Indonesia terus memperkuat pasar domestik melalui instrumen keuangan syariah SukBI dan SUVBI serta pengembangan pasar uang antarbank syariah.

Sebagai anggota pendiri IILM, Indonesia juga mendukung perluasan basis investor untuk memperdalam likuiditas syariah lintas negara.

Solikin menekankan pembelajaran penting bahwa ketahanan tidak dapat dibangun setelah guncangan terjadi, melainkan ketahanan harus sudah terbangun sebelum terjadinya guncangan.

Solikin mengatakan bahwa penguatan likuiditas juga perlu diiringi inovasi yang bertanggung jawab.

Inovasi digital, termasuk sukuk yang ditokenisasi (tokenised sukuk), berpotensi meningkatkan efisiensi dan memperluas akses keuangan syariah, yang perlu didukung tata kelola yang kuat, kepastian hukum, dan manajemen risiko yang efektif.

“Keuangan syariah dapat terus tumbuh, tetapi besarnya aset tidak menjamin ketahanannya menghadapi guncangan. Risiko keuangan, kebutuhan likuiditas, dan perkembangan inovasi digital melintasi batas negara sehingga tidak dapat diatasi oleh satu institusi atau negara saja. Karena itu, kolaborasi global perlu terus diperkuat untuk membangun ketahanan keuangan syariah yang berkelanjutan,” ujar Solikin.

Sekretaris Jenderal IFSB Dr. Ghiath Shabsigh menekankan bahwa industri keuangan syariah berada pada titik penting yang menuntut kemampuan mengelola risiko, sekaligus memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan nasabah.

Inovasi seperti kecerdasan artifisial (AI), pemanfaatan data berskala besar, dan instrumen keuangan hibrida dapat memperluas jangkauan layanan serta meningkatkan dampak ekonomi dan sosial.

Ia juga menyoroti bahwa Indonesia telah membangun fondasi yang kuat dalam pengembangan keuangan syariah, dan Indonesia memiliki potensi besar sebagai salah satu perekonomian utama dunia.

Hal ini didukung upaya bank sentral dalam mengembangkan industri, menyediakan fasilitas likuiditas, dan membangun infrastruktur pasar keuangan syariah.

Ke depan, kolaborasi global perlu terus diperkuat untuk dalam menghadapi risiko yang semakin kompleks dan saling terhubung.

READ  Ribuan WNI Gelar Salat Idulfitri di Tokyo, Pererat Silaturahmi di Negeri Sakura

Bank Indonesia akan terus menjalin sinergi dengan mitra global untuk memperkuat fondasi bagi keuangan syariah tetap tangguh menghadapi gejolak dan mendorong produktivitas ekonomi kerakyatan nasional. (VUD)