Bisnis

Perluas Akses Pasar, 50 UMKM Jatim Dipertemukan dengan Jaringan Ritel Besar

349
×

Perluas Akses Pasar, 50 UMKM Jatim Dipertemukan dengan Jaringan Ritel Besar

Sebarkan artikel ini
USAHA: Dinkop UKM Jatim menggelar business matching, mempertemukan 50 UMKM dengan calon mitra usaha dan jaringan ritel selama dua hari, 5–6 Oktober 2026, di Hotel Santika Premiere Gubeng, Surabaya. (PEMPROV JATIM)

INVESTORBISNIS.COM – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Timur menopang sekitar 60 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah dengan nilai mencapai lebih dari Rp 1,6 triliun.

Sekitar 64,5 persen pelaku UMKM di wilayah Jatim dikelola oleh perempuan.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

UMKM di Jatim didominasi oleh usaha mikro sebesar 93,37 persen, diikuti usaha kecil dan menengah.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim melalui Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) aktif memberikan pelatihan, perluasan pasar digital, dan klinik konsultasi usaha.

Sementara dari sisi pembiayaan, Bank Jatim dan BPR Jatim menyediakan berbagai fasilitas pembiayaan khusus serta program peningkatan keterampilan seperti BizSkill Center bagi pelaku usaha.

Pemprov Jatim pun aktif mendorong pelaku UMKM memperluas akses pasar melalui Business Matching Inkubasi Bisnis Produk Makanan dan Minuman serta Craft/Kerajinan.

Kegiatan yang digelar Diskop UKM Jatim tersebut mempertemukan 50 pelaku UMKM dengan calon mitra usaha dan jaringan ritel selama dua hari, 5–6 Oktober 2026, di Hotel Santika Premiere Gubeng, Surabaya.

Para peserta berasal dari sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur, di antaranya Kota Mojokerto, Kabupaten Gresik, Lamongan, dan Pasuruan.

Mereka mendapatkan kesempatan memperkenalkan produk sekaligus memahami kebutuhan pasar dari sejumlah calon mitra.

Sekretaris Diskop UKM Jatim sekaligus Plt. Kepala Bidang Produksi dan Restrukturisasi Usaha, Arina Nur Fauziyah, mengatakan akses pasar menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan UMKM.

Menurutnya, peningkatan kapasitas produksi perlu diikuti kemampuan memasarkan produk agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas UMKM kita, kita melakukan business matching agar UKM dapat memasarkan produk,” ujarnya dikutip Rabu (7/10/2026).

Arina berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada forum bisnis, tetapi dapat berlanjut menjadi kerja sama yang membuka peluang pemasaran baru.

READ  Mendag Lepas Ekspor Koral Banyuwangi ke AS, Nilainya Capai 2.500 Dolar AS

Menurutnya, Business Matching menjadi bagian dari upaya pemberdayaan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Salah satu calon mitra, Perwakilan Bagian Purchasing Mirota Batik & Handicraft Surabaya, Hayna Honoury, mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan sekitar 200 UMKM, termasuk pelaku usaha dari Jawa Timur.

Dalam kegiatan tersebut, ia memberikan gambaran mengenai karakter dan kebutuhan pasar berdasarkan pengalaman di lapangan.

Produk yang dipasarkan melalui jaringan tersebut beragam, mulai dari makanan dan minuman, kerajinan, batik, fesyen, cendera mata hingga produk rumah tangga.

Menurut Hayna, kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang bagi produk UMKM untuk masuk ke jaringan pasar yang lebih luas dengan tetap memperhatikan kebutuhan konsumen.

“Karakter pembeli di dalam bentuk grup ini mereka berpikirnya cepat karena dibatasi waktu. Ketika melihat sesuatu yang menarik, umumnya mereka tidak berpikir panjang. Kuncinya ada di kemasan yang menarik,” jelasnya.

Karena itu, Hayna menekankan pentingnya kemasan sebagai salah satu bagian dari strategi pemasaran.

Selain tampilan, pelaku usaha juga perlu memastikan informasi produk tercantum dengan tepat, termasuk komposisi, nilai gizi berdasarkan hasil penelitian produk, dan masa kedaluwarsa.

“Saya hanya memberikan informasi bahwa ternyata di tempat kami packaging yang diminati itu seperti ini berdasarkan kondisi di lapangan. Saya berharap informasi ini bisa menjadi bekal agar produk Bapak dan Ibu bukan hanya tertuju untuk Mirota,” ungkapnya.

Peserta juga mendapatkan informasi mengenai mekanisme kerja sama dengan jaringan pasar, termasuk sistem profit sharing, pengiriman produk, pembayaran, hingga komunikasi antara pemasok dan mitra.

Pemahaman tersebut diharapkan membantu pelaku UMKM menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar sekaligus meningkatkan kesiapan menjalin kerja sama.

READ  Harga BBM Terbaru Berlaku Januari 2026, Simak Daftarnya di Semua SPBU

Hayna mengatakan kerja sama dengan pelaku UMKM diarahkan untuk memberikan manfaat bagi kedua pihak serta mendukung produktivitas dan keberlanjutan usaha.

“Intinya, saling menguntungkan, win-win solution, meningkatkan ketahanan ekonomi, produktivitas, efisiensi penjualan, dan kerja sama yang efektif,” ujarnya.

Ia juga mendorong peserta tidak hanya mengandalkan satu kanal pemasaran.

Pengalaman bekerja sama dengan jaringan ritel di Surabaya diharapkan menjadi pijakan bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan distribusi produk ke pasar yang lebih luas.

“Saya berharap produk Bapak dan Ibu juga bisa menyebar di Kota Surabaya, di beberapa toko,” harapnya.

Selain Hayna, Business Matching tersebut menghadirkan tiga narasumber dari jaringan pasar dan ritel, yakni Robby Prasetyo dari KS Mart Blitar, Wahyu Fitria Jayanti dari The Java Supermarket Oleh-Oleh Malang, serta April Wahyu Widati dari Samudera Supermarket Surabaya.

Melalui kegiatan tersebut, Diskop UKM Jatim mendorong terbentuknya relasi antara pelaku UMKM dan calon mitra usaha yang dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama.

Perluasan akses pasar diharapkan membuka peluang bagi produk UMKM Jawa Timur menjangkau konsumen yang lebih luas sekaligus meningkatkan daya saing usaha. (LZY)