INVESTORBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (28/9/2026), bergerak melemah 45 poin atau 0,25 persen.
Dari level Rp 17.903 per USD di penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026) menjadi Rp 17.948 per USD dalam pembukaan perdagangan pagi ini.
Pergerakan rupiah di pasar spot hari ini diperkirakan kembali melemah pada perdagangan awal pekan ini.
Tekanan dari harga minyak yang masih melambung, disertai adanya ekspektasi inflasi September yang meninggi menjadi pemicu.
Pada Senin (28/9/2026), rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) bergerak di kisaran Rp 17.971/US$ pada 07.46 WIB.
Sementara harga minyak mentah Brent naik 1,4 persen ke USD 105,78 per barel, dan West Texas Intermediate (WTI) di USD 93,22 per barel.
Sentimen lain yang membayangi rupiah adalah data inflasi September 2026. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi Indonesia bulan ini ada di 3,3 persen yoy dari posisi Agustus 2026 yang sebesar 3,19 persen yoy.
Percepatan laju inflasi dipicu oleh tingginya harga energi diperkirakan mulai merambat ke harga barang dan jasa inti, meski dampaknya sebagian tetap diredam oleh subsidi bahan bakar minyak (BBM) pemerintah.
Ke depan, Bloomberg Economics juga memperkirakan inflasi berpotensi menembus batas atas target BI yang dipatok 1,5 peren-3,5 persen.
Terutama lantaran adanya risiko El Nino yang membuat harga pangan semakin meninggi.
Pekan ini, pergerakan rupiah juga dibayangi oleh data neraca perdagangan yang tergambar pada perkiraan pertumbuhan impor-ekspor.
Berdasarkan konsensus yang dihimpun Bloomberg, median estimasi impor Agustus 2026 diperkirakan tumbuh 27,8 persen yoy dari 27,02 persen yoy pada Juli 2026.
Sementara, ekspor melambat tajam dari 6,05 persen pada Juli 2026, diperkirakan menjadi 2,5 persen pada Agustus 2026.
Ketidakseimbangan atara pemulihan aktivitas ekonomi domestik yang tergambar dalam data proyeksi impor dengan perlambatan ekspor mengindikasikan bahwa sektor manufaktur dan komoditas sedang menghadapi lemahnya permintaan global.
Kondisi itu berpotensi mengiring rupiah menuju pelemahan lebih lanjut di pekan ini.
Dari sisi eksternal, pasar obligasi global Amerika Serikat (AS) masih mengalami tekanan aksi dengan yield tenor 10 tahun berada di level 5,2 persen.
Di samping itu, pasar obligasi AS juga menyiratkan adanya risiko stagnasi. Selisih yield antara US Treasury tenor 10 tahun dengan tenor 2 tahun kian menyempit hingga 17 basis poin (bps) pada pekan lalu.
Tekanan itu merambat pada pasar obligasi Jepang yang mengalami kenaikan yield 2,2 bps ke 3,07 persen untuk tenor 10 tahun.
Begitu juga yield obligasi Australia naik 4,4 bps ke 5,41 persen. Sementara yield Korea Selatan, China justru stabil di kisaran 4,36 persen dan 1,66 persen. Disusul oleh obligasi Malaysia yang berberak di 3,95 persen, dan Singapura 2,45 persen.
Obligasi Indonesia berdenominasi dolar AS (Indon) juga tak luput dari tekanan dan naik 3, bps ke 6,07 persen, begitu juga obligasi Filipina dengan mata uang dolar naik 1,9 bps ke 6,05 persen.
Namun, obligasi Ri berdenominasi rupiah tenor 10 tahun relatif stabil di 7,09 persen, turun 1,6 bps.
Pergerakan yield di pasar obligasi Asia beresonansi pada gerak mata uang kawasan. Pagi ini, baht Thailand melemah tajam bersama yen Jepang, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yuan offshore.
Pekan ini, S&P Global akan merilis data aktivitas manufaktur di berbagai negara. Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai tekanan harga, kondisi permintaan eksternal, serta aktivitas manufaktur.
Sementara itu, belum ada kemajuan dari resolusi konflik antara AS-Iran. Iran tetap mempertahankan proposal pembukaan kembali Selat Hormuz selama tujuh hari yang telah ditolak Presiden AS Donald Trump.
Sikap tersebut berpotensi semakin menunda pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu dan membebani harga minyak, yang pada akhirnya ikut menekan mata uang Asia.
Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah spot diperkirakan akan bergerak di rentang Rp 17.850-Rp 17.950 per USD.
Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih ada risiko melemah hari ini. Cermati support di level Rp 17.910 per USD dengan target pelemahan kedua diharapkan tertahan di Rp 17.950 per USD.
Apabila menjebol kedua support tersebut, maka rupiah bisa saja melemah lebih lanjut hingga menembus Rp 18.000 per USD sebagai support terkuatnya.
Namun apabila rupiah mampu menguat hingga berhasil menembus resistance, maka menarik dicermati area Rp 17.850 per USD dan selanjutnya Rp 17.800 per USD. Resistance lanjutan adalah Rp 17.700 per USD sebagai target paling optimistis. (MND)













