Umum

Tanggapan Pakar ITS soal Surabaya Berpotensi Banjir Rob Akhir September 2026

299
×

Tanggapan Pakar ITS soal Surabaya Berpotensi Banjir Rob Akhir September 2026

Sebarkan artikel ini
PENGAMAT: Dosen Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS Muhammad Hafiizh Imaaduddiin, ST., MT menjelaskan jika Surabaya tidak bisa menghindari banjir namun bisa meminimalisir risiko. (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tanjung Perak, Surabaya memprediksi potensi pasang air laut maksimum dan banjir rob di pesisir Kota Pahlawan pada akhir September 2026 ini.

Penyebabnya adalah munculnya fenomena astronomis Super New Moon (bulan baru) yang memicu pasang laut lebih tinggi dari biasanya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Ketinggian puncak diprakirakan mencapai 130 hingga 150 cm dari rata-rata muka air laut.

Wilayah berisiko di antaranya adalah kawasan pesisir Surabaya seperti Kalianak, Krembangan, dan area pantai atau pelabuhan sekitarnya.

Fenomena ini akan memberikan dampak genangan air yang dapat mengganggu aktivitas pelabuhan, bongkar muat, perikanan, serta warga di jalur pesisir.

Pakar mitigasi bencana banjir Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr. Umboro Lasminto, ST, MSc menjelaskan, ketinggian air pasang menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Menurut Umboro, masyarakat dapat mencermati prediksi air pasang yang dikeluarkan BMKG atau sumber resmi lainnya.

“Dari hasil pengamatan yang pernah terjadi sebelumnya, apabila puncak pasang di atas 2,4 meter maka perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan banjir rob,” terangnya.

Umboro mengungkapkan, apabila ketinggian air pasang berada di bawah angka tersebut, maka kemungkinan terjadinya banjir rob relatif lebih rendah.

Meski demikian, dosen Departemen Teknik Sipil ITS tersebut mengingatkan bahwa kondisi pasang di lapangan tidak selalu sesuai dengan prediksi.

“Masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan ketika terdapat prediksi pasang tinggi di wilayah pesisir Surabaya,” pesannya.

Sementara itu, dosen dan peneliti mitigasi bencana banjir dari Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS Muhammad Hafiizh Imaaduddiin, ST., MT menambahkan bahwa pasang air laut berkaitan dengan siklus bulan.

READ  Suhu Surabaya Hari Ini Menyengat hingga 34 Derajat Celsius, BMKG Imbau Warga Jaga Hidrasi

Fase bulan purnama juga identik dengan terjadinya periode pasang yang lebih besar.

“Menurut saya, kenapa September ini terjadi potensi pasang tertinggi hanya karena waktunya kebetulan bersamaan, yakni bulan purnama, pasang tertinggi, kemudian potensi rob,” terangnya.

Hafiizh juga menyampaikan bahwa karakteristik Surabaya sebagai wilayah hilir pesisir membuat potensi banjir rob menjadi risiko yang perlu diantisipasi.

Perkembangan kawasan perkotaan juga membuat area resapan air semakin terbatas.

“Sebagai daerah hilir pesisir, Surabaya tidak dapat menghindari potensi banjir rob sehingga perlu diantisipasi melalui pengelolaan drainase,” jelasnya.

Menurut Hafiizh, berbagai kawasan terbangun seperti perumahan, perkantoran, hingga kawasan stadion Gelora Bung Tomo (GBT) turut mengurangi area resapan air di Surabaya.

Kendati demikian, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah memiliki Surabaya Drainage Master Plan (SDMP) sebagai salah satu upaya penanganan persoalan drainase perkotaan.

Masyarakat dapat melakukan langkah sederhana dengan mengamankan barang dari lokasi yang berpotensi tergenang dan menyiapkan alternatif rute perjalanan.

Kesiapsiagaan juga penting dilakukan meskipun banjir rob pada akhirnya tidak terjadi.

“Persiapan sejak awal dapat membantu meminimalkan risiko dan dampak apabila pasang berkembang menjadi banjir rob,” pungkasnya.

Upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan pengelolaan drainase tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

Khususnya pada poin ke-11 tentang pembangunan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, serta berkelanjutan. (LBV)