INVESTORBISNIS.COM – Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti mengatakan, prospek perekonomian global masih lemah disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi.
Kondisi ini dipengaruhi oleh berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dan komoditas dunia lainnya kembali naik.
“Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 belum kuat yang diprakirakan sekitar 3,0 persen,” ungkap Destry dikutip Kamis (20/8/2026).
Sementara itu, lanjut dia, tekanan inflasi global tetap tinggi sekitar 4,5 persen pada 2026 sehingga mendorong kebijakan moneter global menjadi lebih ketat.
“Termasuk suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), Fed Funds Rate (FFR) yang diprakirakan naik pada triwulan IV/2026,” ujarnya.
Destry melanjutkan, imbal hasil (yield) US Treasury juga naik dan diprakirakan tetap tinggi seiring menguatnya ekspektasi kenaikan FFR dan defisit anggaran AS yang masih lebar.
Ketidakpastian di pasar keuangan global berlanjut sehingga menahan preferensi investor global terhadap investasi portofolio di negara Emerging Markets, dan menyebabkan tetap kuatnya indeks mata uang dolar AS (USD) terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY).
“Perkembangan ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestic,” ungkapnya.
Destry menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik dan perlu terus didorong untuk memperkuat momentum pertumbuhan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II/2026 tercatat sebesar 5,29 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 5,61 persen (yoy).
“Pertumbuhan tersebut banyak ditopang oleh stimulus fiskal yang berdampak pada peningkatan konsumsi pemerintah dan investasi,” ujarnya.
Konsumsi pemerintah tetap tumbuh tinggi bersumber dari peningkatan belanja pegawai termasuk pembayaran gaji ke-13, serta belanja barang dan jasa terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara itu, konsumsi rumah tangga tetap baik meskipun perlu terus ditingkatkan memanfaatkan momentum kuatnya stimulus fiskal.
Demikian pula ekspor juga perlu terus didorong sehingga makin memperkuat struktur pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, pertumbuhan ekonomi diprakirakan tetap baik ditopang implementasi berbagai program stimulus pemerintah dan keyakinan pelaku ekonomi yang terjaga.
“Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi,” katanya.
“Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen,” pungkasnya. (QPH)













