Umum

BMKG Pastikan Suhu Udara Indonesia Masih Normal Meski Eropa Dilanda Gelombang Panas

383
×

BMKG Pastikan Suhu Udara Indonesia Masih Normal Meski Eropa Dilanda Gelombang Panas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi cuaca panas ekstrem (Foto: Magnific)

INVESTORBISNIS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan peluang terjadinya gelombang panas ekstrem seperti yang saat ini melanda sejumlah negara di Eropa masih sangat kecil terjadi di Indonesia. Kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan menjadi faktor utama yang menjaga suhu udara tetap berada dalam batas normal.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan suhu udara di Indonesia selama musim kemarau masih berada pada kisaran normal. Pada siang hari, suhu umumnya berkisar antara 33 hingga 36 derajat Celsius, tergantung wilayah masing-masing.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

“Kita biasanya rentangnya kira-kira dari sekarang di pertengahan tahun seperti musim kemarau ini sekitar 33 hingga 34 derajat Celsius. Ada wilayah-wilayah yang sampai 35 hingga 36 derajat Celsius,” kata Ardhasena dalam perbincangan bersama PRO3 RRI, Rabu (1/7/2026).

Menurut Ardhasena, Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan negara-negara di Eropa karena dikelilingi oleh lautan. Perairan yang luas berfungsi sebagai penyangga alami (buffer) yang membantu meredam lonjakan suhu udara secara ekstrem.

“Saat ini masih kecil peluangnya kita mengalami lonjakan yang begitu drastis. Alasannya karena kita dikelilingi banyak lautan. Lautan ini menjadi penyangga yang mencegah terjadinya lonjakan temperatur tinggi seperti yang sekarang terjadi di Eropa,” ujarnya.

Meski demikian, masyarakat tetap dapat merasakan cuaca yang sangat terik selama musim kemarau. Namun, kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai gelombang panas karena suhu udara di Indonesia masih mengalami penurunan pada malam hari.

Ardhasena menjelaskan, salah satu indikator utama gelombang panas adalah suhu malam yang tetap tinggi sehingga tubuh tidak memiliki kesempatan untuk melepaskan panas dan melakukan pemulihan.

“Ada karakteristik lain yang menjadi ciri gelombang panas, yaitu temperatur malamnya tidak turun. Sementara di Indonesia, setelah sore temperatur akan turun sehingga memungkinkan tubuh untuk melakukan pemulihan,” jelasnya.

READ  Gelombang Panas Eropa Telan Lebih dari 1.000 Korban Jiwa, Suhu Tembus 40 Derajat Celsius

BMKG juga mencatat adanya tren kenaikan suhu rata-rata di Indonesia sekitar 0,3 derajat Celsius setiap sepuluh tahun sebagai dampak perubahan iklim global. Meski kenaikannya relatif kecil, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena dipengaruhi tingkat kelembapan udara yang tinggi sehingga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kondisi tubuh saat cuaca panas dengan memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan pelindung kepala saat beraktivitas di luar ruangan, serta membatasi aktivitas fisik pada siang hari guna mengurangi risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat paparan panas. (WRH)