INVESTORDALY.COM – Sepanjang 2025, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) tetap menunjukkan ketahanan kinerja di tengah pelemahan harga nikel global.
Perseroan membukukan pendapatan sekitar USD 1,435 miliar dan EBITDA sebesar USD 219 juta, didukung oleh peningkatan volume produksi nikel, kontribusi yang lebih baik dari operasi hilir, serta disiplin biaya yang berkelanjutan di sepanjang rantai nilai.
Tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral menjadi salah satu pendorong utama model bisnis terintegrasi perseroan, dengan produksi 7,0 juta wet metric tonnes (wmt) bijih saprolit dan 14,7 juta wmt bijih limonit pada 2025.
Operasi hilir juga memberikan kontribusi terhadap kinerja Perseroan, dengan produksi Nickel Pig Iron (NPI) sebesar 73.871 ton, High-Grade Nickel Matte (HGNM) sekitar 19.998 ton, serta Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sekitar 25.994 ton.
Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk, Teddy Nuryanto Oetomo mengatakan keputusan RUPST mendukung fase pertumbuhan berikutnya seiring peningkatan skala produksi, pendalaman integrasi, dan penguatan eksekusi MBMA di seluruh portofolio perseroan.
“MBMA berhasil mempertahankan kinerja yang tangguh di tengah tekanan harga nikel global, didukung oleh peningkatan volume produksi dan peningkatan margin di operasi hilir. Kami akan terus mempercepat pengembangan ekosistem hilir terintegrasi untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang Perseroan,” ujar Teddy saat RUPST, Selasa (23/6/2026).
Memasuki 2026, MBMA menargetkan pertumbuhan berkelanjutan di seluruh lini operasi.
Perseroan menargetkan produksi bijih saprolit sebesar 8,0 juta hingga 10,0 juta wmt dan produksi bijih limonit sebesar 20,0 juta hingga 25,0 juta wmt.
Di sektor hilir nikel, MBMA menargetkan produksi NPI sebesar 70.000 hingga 80.000 ton dan HGNM sebesar 44.000 hingga 48.000 ton.
Perseroan juga terus memajukan sejumlah proyek strategis untuk meningkatkan integrasi dan efisiensi.
MBMA telah mulai mengoperasikan Feed Preparation Plant (FPP) untuk mengirimkan slurry limonit melalui jalur pipa dari tambang SCM ke fasilitas HPAL yang dioperasikan oleh PT ESG New Energy Material.
Proyek HPAL SLNC, yang memiliki kapasitas terpasang 90.000 ton nikel per tahun, terus berjalan sesuai rencana, dengan commissioning lini pertama ditargetkan pada semester kedua 2026.
Pemegang saham menyetujui pengangkatan James Nicholas dan Ashutosh Srivastava Fausimm sebagai direktur perseroan, efektif sejak ditutupnya RUPST.
James Nicholas akan memperkuat fungsi keuangan MBMA sebagai Chief Financial Officer, sementara Ashutosh Srivastava Fausimm akan mendukung pelaksanaan operasional perseroan sebagai direktur operasional.
RUPST juga menyetujui pengunduran diri Anthony Kartono Tan dari jabatannya sebagai direktur.
MBMA menyampaikan apresiasi atas kontribusi dan dedikasi Anthony selama menjabat.
“Penguatan susunan Direksi diharapkan dapat mendukung fokus MBMA pada disiplin keuangan, eksekusi operasional, dan penciptaan nilai jangka panjang seiring pengembangan posisi Perseroan dalam rantai nilai bahan baku baterai,” ujar Teddy.
Perseroan juga menyampaikan laporan realisasi penggunaan dana hasil Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan I Merdeka Battery Materials Tahap I, II, dan III Tahun 2025, serta Penawaran Umum Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Merdeka Battery Materials Tahap I, II, dan III Tahun 2025.
Laporan tersebut disampaikan kepada pemegang saham sesuai dengan ketentuan pasar modal dan tidak memerlukan persetujuan pemegang saham.
MBMA akan terus berfokus pada efisiensi operasional, alokasi modal yang disiplin, dan pengembangan portofolio bahan baku baterai yang terintegrasi.
“Perseroan berkomitmen untuk mendukung peran Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global melalui operasi yang bertanggung jawab, pengembangan hilirisasi, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Teddy. (awa)













