EkonomiHeadlineUmum

Bank Indonesia: Kredit Perbankan Tembus 11,5 Persen pada Mei 2026

390
×

Bank Indonesia: Kredit Perbankan Tembus 11,5 Persen pada Mei 2026

Sebarkan artikel ini

INVESTORBISNIS.COM – Pertumbuhan kredit perbankan nasional terus menunjukkan penguatan. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11,5% secara tahunan (year on year/yoy) pada Mei 2026, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 9,98% yoy.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa tren pertumbuhan kredit perbankan tetap solid dan diharapkan mampu mendukung penguatan ekonomi nasional ke depan.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

“Kredit perbankan pada Mei 2026 tumbuh sebesar 11,51% yoy, lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2026 sebesar 9,98% yoy,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara virtual di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 21,95% yoy. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 8,09% yoy, dan kredit konsumsi tercatat melambat menjadi 5,89% yoy.

Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap terjaga pada kisaran 8–12%.

Menurut Perry, prospek kredit ke depan masih ditopang oleh sisi permintaan dan penawaran yang memadai. Hal ini tercermin dari masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang mencapai Rp2.576 triliun atau sekitar 22,41% dari total plafon kredit.

Dari sisi likuiditas, kapasitas perbankan juga dinilai kuat. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) tercatat sebesar 24,74%, sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh menguat 13,47% yoy pada Mei 2026.

Perkembangan suku bunga perbankan juga turut mendukung prospek kredit. Pada Mei 2026, suku bunga kredit tercatat sebesar 8,72%, sedangkan suku bunga deposito 1 bulan berada di level 4,26%.

Selain itu, kondisi permodalan perbankan tetap terjaga kuat dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 23,97% pada April 2026. Angka tersebut dinilai memadai untuk menyerap risiko sekaligus mendukung ekspansi kredit.

READ  Pendapatan Negara di Wilayah KPPN Malang Tumbuh Hampir 10 Persen

Dari sisi risiko, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap rendah, yakni 2,17% secara bruto dan 0,84% secara neto. Hasil uji ketahanan (stress test) Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa sektor perbankan nasional masih memiliki ketahanan kuat dalam menghadapi berbagai risiko global, termasuk dampak lanjutan konflik di Timur Tengah.

“Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan makroprudensial dan sinergi kebijakan bersama KSSK dalam rangka turut menjaga stabilitas sistem keuangan,” pungkas Perry. (RIK)