PropertiUmum

BI Naikkan Suku Bunga, Industri Properti Diprediksi Makin Terbebani

288
×

BI Naikkan Suku Bunga, Industri Properti Diprediksi Makin Terbebani

Sebarkan artikel ini

INVESTORBISNIS.COM – Kalangan pengusaha menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 Mei 2026 akan semakin membebani industri properti nasional.

Real Estate Indonesia (REI) memperkirakan pasar properti akan memasuki fase wait and see seiring kenaikan suku bunga acuan tersebut.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Wakil Ketua Umum REI, Bambang Ekajaya menyatakan pengetatan moneter itu akan memperberat beban sektor properti yang saat ini tengah menghadapi tekanan biaya konstruksi.

Menurutnya, kenaikan BI Rate akan langsung berdampak pada naiknya bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) nonsubsidi sehingga memberatkan calon pembeli baru maupun konsumen yang sedang mengangsur cicilan rumah.

“Kalau ditambah bunga KPR juga melonjak pasti membuat calon pembeli akan menahan diri,” kata Bambang, dikutip Sabtu, 23 Mei 2026.

Ia menambahkan, transmisi kenaikan BI Rate ke sektor perbankan komersial diproyeksi memakan waktu sekitar dua hingga tiga bulan ke depan.

“Memang kondisi saat ini serba sulit. Kenaikan BI Rate tentu akan mendorong kenaikan suku bunga komersial termasuk untuk KPR nonsubsidi. Pasti efeknya akan memberatkan baik calon pembeli ataupun konsumen yang sedang mengangsur,” pungkasnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menjelaskan keputusan menaikkan suku bunga acuan dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak gejolak global akibat perang di Timur Tengah.

Selain itu, kebijakan tersebut juga disebut sebagai langkah preemptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen yang telah ditetapkan pemerintah.

“Keputusan ini sejalan dengan fokus kebijakan moneter pada 2026 pada stabilitas untuk memperkuat kepentingan eksternal ekonomi Indonesia dari dampak global,” ujar Perry.

READ  Proyeksi Nataru 2025/2026: Uang Beredar Diprediksi Tembus Rp5.900 Triliun

Pelaku industri berharap pemerintah dan perbankan dapat menghadirkan kebijakan penyeimbang agar sektor properti tetap bergerak di tengah tekanan kenaikan suku bunga dan perlambatan daya beli masyarakat. (NHV)