Keuangan

SPPA BEI Kian Strategis, Dorong Likuiditas dan Transparansi Pasar Surat Utang

203
×

SPPA BEI Kian Strategis, Dorong Likuiditas dan Transparansi Pasar Surat Utang

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI: BEI terus memperkuat infrastruktur pasar keuangan nasional lewat pengembangan Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA). (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memperkuat infrastruktur pasar keuangan nasional lewat pengembangan Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA).

Peran SPPA kini makin penting, terutama dalam mendorong transparansi, efisiensi, dan likuiditas untuk transaksi surat utang dan instrumen pasar uang.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Sebagai platform utama untuk transaksi pasar alternatif—khususnya fixed income—SPPA dirancang agar proses transaksi lebih terbuka dan efisien, sehingga pembentukan harga (price discovery) bisa berjalan lebih optimal dan kompetitif.

SPPA hadir sebagai trading platform yang menghubungkan pasar modal dan pasar uang dalam satu ekosistem.

Platform ini juga mendukung pelaksanaan kuotasi oleh Dealer Utama, baik untuk Surat Utang Negara (SUN), Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), maupun Pasar Uang dan Valuta Asing (PUVA).

Dengan kemampuan tersebut, SPPA membantu pelaku pasar dalam mengelola keseimbangan aset dan liabilitas, sekaligus memenuhi kebutuhan likuiditas harian dan aktivitas trading portofolio dengan lebih efisien.

Di tengah kebutuhan likuiditas yang terus meningkat, kehadiran SPPA menjadi semakin relevan—bukan hanya sebagai sarana transaksi, tetapi juga sebagai pendorong pendalaman pasar dan integrasi antara pasar modal dan pasar uang di Indonesia.

Peran SPPA semakin kuat setelah mendapatkan izin sebagai Electronic Trading Platform (ETP) Antarpasar dari Bank Indonesia pada 28 November 2025.

Sejak 1 April 2026, SPPA juga sudah digunakan oleh Dealer Utama PUVA untuk menyampaikan kewajiban kuotasi repo di pasar sekunder.

Dengan fungsi ini, SPPA menjadi satu-satunya platform di Indonesia yang mengintegrasikan kuotasi repo, kuotasi SUN, transaksi jual beli putus (outright) dan transaksi Repo Surat Utang dalam satu sistem.

Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa dengan sinergi dan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan, SPPA menjadikan perdagangan Repo semakin inklusif, memberikan price discovery yang baik, serta meningkatkan efisiensi proses post trade dari perdagangan Repo.

READ  Menkeu Purbaya Prediksi IHSG Berlanjut Naik di Tahun Ini

”Penggunaan SPPA sebagai platform resmi untuk menyampaikan Kewajiban Kuotasi Repo di Pasar Sekunder menunjukkan bahwa SPPA dapat menjadi platform yang efisien bagi para Dealer Utama PUVA, baik untuk meningkatkan likuiditas maupun mencapai price discovery yang lebih baik di Pasar Sekunder,” ujar Jeffrey.

Sejak diluncurkan pada 2025, transaksi repo di SPPA menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat.

Sepanjang tahun 2025, nilai transaksi repo mencapai Rp 751,6 triliun atau sekitar 27 persen dari pasar interdealer.

Tren ini berlanjut pada kuartal I/2026 dengan nilai transaksi Rp 215 triliun dan pangsa pasar yang meningkat menjadi 36 persen.

Dari total 21 Dealer Utama PUVA yang ditunjuk Bank Indonesia, sebanyak 13 sudah aktif menggunakan SPPA.

Untuk mendorong partisipasi dan aktivitas transaksi, BEI juga menggelar SPPA Awards 2025 pada 13 April 2026 lalu.

Penghargaan ini diberikan kepada pelaku pasar yang berkontribusi besar terhadap likuiditas, berdasarkan nilai transaksi selama satu tahun.

Sejumlah bank dan perusahaan sekuritas mendapat apresiasi atas perannya dalam menjaga aktivitas pasar, baik sebagai dealer aktif, penyedia likuiditas, maupun pelaku dengan pertumbuhan kinerja yang menonjol.

Melalui penguatan SPPA dan meningkatnya partisipasi pelaku pasar, BEI berharap pasar keuangan Indonesia bisa semakin dalam, efisien, dan menawarkan lebih banyak pilihan investasi di luar saham. (NZF)