Keuangan

Tumbuh 31,4 Persen, Belanja di Triwulan I/2026 Sudah Capai 21,2 Persen dari Pagu APBN

299
×

Tumbuh 31,4 Persen, Belanja di Triwulan I/2026 Sudah Capai 21,2 Persen dari Pagu APBN

Sebarkan artikel ini
WAMENKEU: Wakil Menteri Keuangan Juda Agung. (IST)

INVESTORBISNIS.COM – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam acara Policy Dialogue – Kick Off program Percepatan Intermediasi Indonesia (Pinisi) 2026, ia mengibaratkan kebijakan fiskal sebagai “angin” dan perbankan sebagai “layar” yang harus bekerja sama agar kapal ekonomi Indonesia mencapai tujuannya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Juda mengungkapkan bahwa kinerja APBN pada triwulan I/2026 menunjukkan pertumbuhan belanja yang sangat signifikan, yakni mencapai 31,4 persen (yoy).

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya tumbuh 1,4 persen.

“Belanja di triwulan I sudah mencapai 21,2 persen dari total pagu APBN. Kami memang sengaja merubah pola pengeluaran agar lebih merata sepanjang tahun, tidak lagi menumpuk di Triwulan IV, supaya pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan lebih cepat,” ujarnya di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Dari sisi penerimaan, pajak tumbuh sebesar 20,7 persen (ytd), yang didorong oleh lonjakan PPN dan PPNBM sebesar 57,7 persen.

Pertumbuhan ini menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas konsumsi masyarakat dan transaksi di sektor dunia usaha masih sangat bergairah.

Menanggapi kenaikan harga minyak mentah yang sempat menyentuh angka USD 100 per barel, ia menegaskan komitmennya untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi demi menjaga daya beli masyarakat.

Untuk mengantisipasi pembengkakan subsidi agar defisit tetap terjaga di bawah ambang batas 3 persen, pemerintah telah melakukan berbagai langkah-langkah strategis.

Salah satu langkah tersebut dilakukan melalui penajaman program prioritas, seperti efisiensi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan meniadakan pemberian makan pada hari Sabtu dan masa libur sekolah.

Satu hari efisiensi MBG diklaim dapat menghemat anggaran hingga Rp 1 triliun. Selain itu, pemanfaatan sistem coretax serta mengoptimalkan windfall pajak dari komoditas batubara dan CPO juga menjadi salah satu strategi pemerintah.

READ  PTP Nonpetikemas Catat Throughput 12,04 Juta Ton, Segmen Curah Kering Tetap Mendominasi

Juda menjelaskan, pemerintah juga memetakan delapan klaster nasional dalam Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN), mulai dari kedaulatan pangan, hilirisasi industri strategis (seperti semikonduktor dan motor nasional), hingga kemandirian energi (B50 dan Bioetanol B20).

Kementerian Keuangan mengedepankan sinergi pembiayaan antara APBN, badan pengelola investasi Danantara, dan sektor swasta.

Menutup keterangannya, Juda kembali menegaskan filosofi program PINISI dalam menjaga arah kebijakan ekonomi. “Pinisi, bayangan kita adalah sebuah kapal. Sebuah kapal yang berlayar menuju sebuah tujuan,” pungkasnya. (NZF)