INVESTORBISNIS.COM – Easycash kembali membuktikan komitmennya untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.
Bersama Association of Registered Financial Consultants (IARFC), Easycash menyelenggarakan edukasi literasi keuangan bertajuk “Literasi Keuangan Generasi Muda di Era Digital” di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rabu (22/4/2026).
Kegiatan ini sebagai upaya membekali mahasiswa dengan pemahaman pengelolaan keuangan yang bijak di tengah pesatnya perkembangan digitalisasi sektor jasa keuangan.
Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, masih terdapat kesenjangan yang signifikan antara inklusi dan literasi keuangan di Indonesia.
Indeks inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen, namun indeks literasi baru berada di angka 66,46 persen.
Pada kelompok Gen Z (usia 18–25 tahun), meskipun inklusi mencapai 89,96 persen, tingkat pemahaman atau literasi mereka masih tertinggal di angka 73,22 persen.
Gap ini menunjukkan bahwa banyak anak muda sudah menggunakan layanan keuangan digital, namun belum sepenuhnya paham mengenai risiko dan tanggung jawab dari produk keuangan yang ada.
Oleh karena itu, Easycash memperkenalkan dua inisiatif edukasi, yaitu Modul Bijak Keuangan (Mojang) dan ChatPindar.
Head of Corporate Affairs Easycash, Wildan Kesuma mengatakan, Surabaya sebagai salah satu pusat ekonomi terbesar di Indonesia memiliki populasi generasi muda yang sangat dinamis, namun juga rentan terhadap risiko finansial jika tidak dibekali literasi yang tepat.
Oleh karena itu, kegiatan literasi keuangan ini menjadi bagian dari upaya untuk membekali mahasiswa di Surabaya dengan pemahaman yang lebih komprehensif dalam mengelola keuangan secara bijak.
“Kami melihat kecepatan adopsi layanan fintech belum sepenuhnya dibarengi dengan pemahaman yang mendalam. Di Surabaya, kami tidak hanya ingin memberikan akses, tetapi juga mendorong generasi muda untuk #JadiLebihPaham sehingga bijak dalam mengatur keuangan dengan sehat melalui pendekatan program edukasi keuangan yang lebih relevan,” kata Wildan.
Wildan menjelaskan, Mojang adalah inisiatif yang lahir dari kolaborasi Easycash bersama Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan IARFC Indonesia.
“Mojang versi zine ini adalah pendekatan edukasi keuangan baru yang dirancang untuk Gen Z dan Milenial dengan gaya penulisan yang ringan, visual, dan kontekstual,” ungkapnya.
Selain Mojang, Easycash juga memperkenalkan ChatPindar, sebuah teknologi AI berbasis chat hasil kolaborasi Easycash dan AFTECH yang diluncurkan untuk menjadi “teman ngobrol” bagi anak muda yang ingin bertanya seputar pindar menggunakan berbagai bahasa sehari-hari.
“Mojang versi zine ini dapat digunakan sebagai buku panduan yang membahas topik-topik yang relevan dalam keseharian anak muda, mulai dari manajemen arus kas, cara membedakan platform legal dan ilegal, hingga pentingnya menjaga reputasi kredit,” jelas Wildan.
Sementara itu, ChatPindar yang berperan sebagai platform edukasi tentang industri pindar yang bisa diakses kapanpun masyarakat memiliki pertanyaan tentang pindar.
Dengan semakin mudahnya akses fasilitas keuangan, masyarakat juga perlu memiliki akses edukasi tentang industri pindar yang sifatnya always on, sehingga masyarakat bisa bertanya kapan pun dan tetap mendapatkan jawaban yang akurat.
Masyarakat bisa mendapatkan penjelasan mengenai produk pinjaman daring, hingga tips mengatur keuangan.
Teknologi AI ini membantu untuk memberikan informasi akurat yang dapat diakses kapan saja, membantu pengguna untuk memahami manfaat dan risiko dari pindar serta berbagai aspek penting yang terkait industri ini, diantaranya adalah reputasi kredit/credit scoring.
“Reputasi kredit adalah aset masa depan. Sekali seseorang mengalami gagal bayar (galbay) karena keputusan keuangan yang salah atau kurangnya pemahaman tentang aspek keuangan, maka rekam jejak tersebut akan tercatat dan berpotensi menghambat akses mereka ke layanan keuangan lainnya di masa depan,” jelasnya.
“Oleh karena itu, kami berharap dengan mulai disebarkannya Mojang dan ChatPindar, masyarakat memiliki panduan dan fasilitas tambahan yang dapat diakses dengan mudah untuk meningkatkan pemahaman tentang manajemen keuangan, manajemen utang, reputasi kredit, serta seluk beluk industri pindar,” tambah Wildan.
Director of General Financial Planning Program IARFC Indonesia, Mirzan Hasan, juga membedah tantangan pengelolaan keuangan dari sudut pandang perencana keuangan profesional.
Menurutnya, era digital menciptakan ilusi kemakmuran melalui fenomena media sosial yang mendorong perilaku konsumtif yang tidak terukur.
“Masalah keuangan yang dihadapi mahasiswa sering kali bukan tentang seberapa besar uang yang mereka miliki, tetapi tentang bagaimana mereka menentukan prioritas,” ungkapnya.
Dikatakannya, banyak Gen Z terjebak dalam lifestyle inflation. “Melalui Modul Mojang, kami ingin menanamkan disiplin bahwa setiap keputusan keuangan hari ini memiliki dampak jangka panjang pada reputasi kredit mereka. Kami mengajarkan mahasiswa untuk mulai mencatat arus kas dan memahami bahwa penghasilan kita harus dikelola dengan baik, memilah antara kebutuhan dan keinginan, serta menggunakan pinjaman secara lebih produktif, bukan impulsif,” jelas Mirzan.
Melalui kolaborasi ini, para pemangku kepentingan menegaskan bahwa literasi keuangan adalah fondasi utama untuk mencapai kesejahteraan masyarakat di masa depan.
Mahasiswa yang cerdas finansial tidak hanya akan menyelamatkan diri mereka sendiri dari risiko hukum dan ekonomi, tetapi juga akan menjadi penggerak ekonomi nasional yang lebih tangguh dan berkualitas.
Saat ini, berbagai inisiatif edukasi literasi keuangan terus dikembangkan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan.
Program tersebut diharapkan dapat memperluas akses pembelajaran keuangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Kami berharap upaya peningkatan literasi keuangan ini dapat terus berkembang, sehingga teknologi finansial dapat dimanfaatkan sebagai sarana pemberdayaan, bukan beban. Masa depan finansial yang sehat dimulai dari keputusan bijak yang diambil hari ini,” pungkas Wildan. (VSO)














