INVESTORBISNIS.COM – Harga minyak dunia melonjak lebih dari tujuh persen pada Senin (20/4/2026), menyusul kembali ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran di tengah memanasnya konflik dengan Amerika Serikat.
Informasi penutupan selat strategis tersebut muncul setelah kapal-kapal yang melintas menerima pesan radio dari Angkatan Laut Iran. Dalam peringatan itu disebutkan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup sepenuhnya dan tidak dapat dilalui oleh kapal dari negara mana pun.
“Perhatian seluruh kapal, terkait kegagalan pemerintah AS memenuhi komitmennya, Iran menyatakan Selat Hormuz kembali ditutup sepenuhnya,” demikian isi instruksi radio yang dikutip Reuters.
Peringatan tersebut menegaskan bahwa tidak ada kapal, baik jenis maupun asal negara apa pun, yang diizinkan melintas. Situasi ini langsung memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar global.
Lonjakan harga pun tak terhindarkan. Minyak mentah jenis Brent Crude Oil naik USD6,56 atau 7,26 persen menjadi USD96,94 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat USD6,07 menjadi USD89,92 per barel.
Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran yang saling tuding terkait pelanggaran gencatan senjata. Kedua negara dilaporkan terlibat aksi saling serang, termasuk penembakan terhadap kapal di kawasan tersebut, yang berujung pada penutupan kembali Selat Hormuz.
Penutupan jalur vital ini kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Pasalnya, Selat Hormuz merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia yang menghubungkan kawasan Timur Tengah dengan pasar internasional.
Sentimen pasar juga semakin tertekan oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik, termasuk penolakan Iran terhadap negosiasi damai baru dengan AS. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mengirim utusan untuk melanjutkan perundingan, namun juga mengancam akan melancarkan serangan baru jika Teheran tidak memenuhi tuntutan Washington.
Ketegangan semakin meningkat setelah AS dilaporkan menyita kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade, memperkeruh situasi di kawasan.
Padahal, pada pekan sebelumnya pasar sempat menunjukkan optimisme setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz. Harga minyak bahkan sempat turun hingga 9 persen, seiring harapan meredanya konflik yang telah berlangsung sekitar tujuh pekan.
Namun, kondisi berubah cepat setelah selat kembali ditutup, bahkan hanya sekitar 12 jam setelah sempat dibuka. Penutupan ini memicu kepanikan di pasar global, dengan pelaku pasar kembali bersikap hati-hati terhadap risiko gangguan pasokan energi dunia. (PTU)














