HeadlineUmum

Diversifikasi Energi, Impor Minyak Indonesia dari AS Mulai Direalisasikan

396
×

Diversifikasi Energi, Impor Minyak Indonesia dari AS Mulai Direalisasikan

Sebarkan artikel ini

INVESTORBISNIS.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa impor minyak dari Amerika Serikat ke Indonesia mulai berjalan secara bertahap. Kebijakan ini merupakan bagian dari pengalihan sebagian impor minyak Indonesia yang sebelumnya berasal dari kawasan Timur Tengah.

“Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap ya, bertahap,” kata Bahlil di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Bahlil menjelaskan bahwa pengalihan impor minyak tidak dapat dilakukan secara sekaligus. Hal ini disebabkan kapasitas penyimpanan minyak mentah atau storage di Indonesia masih terbatas.

Menurutnya, langkah diversifikasi sumber impor tersebut juga merupakan respons pemerintah terhadap dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah berencana mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah. Saat ini kapasitas cadangan energi Indonesia hanya mampu bertahan sekitar 25–26 hari.

Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas penyimpanan hingga mampu menampung cadangan minyak untuk kebutuhan selama 90 hari, sesuai standar internasional.

“Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera dibangun. Supaya apa, kita ini butuh survival,” ujar Bahlil.

Ia menambahkan, pemerintah telah mendapatkan investor untuk pembangunan fasilitas storage yang direncanakan berlokasi di Pulau Sumatra. Saat ini proyek tersebut masih berada pada tahap studi kelayakan sebelum memasuki fase konstruksi.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat. Serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran dilaporkan menimbulkan kerusakan serta korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.

READ  Gol Telat Betancor Singkirkan Real Madrid dari Piala Raja

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyebut bahwa pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan pada 1 Maret 2026. Televisi pemerintah Iran juga mengonfirmasi kematian Khamenei akibat serangan tersebut.

Media Iran juga melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup akibat serangan tersebut, meskipun hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Selain itu, jalur ini juga menjadi rute utama ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab. (ONF)